Kamis, 05 November 2009

MENGINGAT ALLAH

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

'Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah sebanyak-banyaknya.' (QS 33 : 41)
Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 29 : 45)

Rasulullah,saw., manusia teragung sepanjang masa itu ditanya oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib,ra., : ‘Yaa Rasulullah tunjukkan kepadaku jalan yang paling dekat kepada Allah SWT, paling mudah bagi hamba-Nya, tetapi paling utama menurut Allah.’ Beliau menjawab : ‘Hai Ali hendaklah kamu senantiasa berdzikir kepada Allah baik secara sirri (bathin) maupun jahr (bersuara).’ Lalu Sayyidina Ali.ra. melanjutkan pertanyaannya : ”Yaa Rasulullah setiap manusia telah biasa berdzikir padahal aku ingin engkau memberikan secara khusus.’ Beliau menjawab : ‘Seutama-utamanya apa yang aku ucapkan dan diucapkan oleh nabi sebelumku adalah kalimat ‘Laa Ilaaha Illallaah’. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi dikumpulkan jadi satu dalam satu timbangan, maka pastilah kalimat ‘Laa Ilaaha Illallaah’ akan lebih berat.’”

Ke dua ayat Al Qur’an dan sebuah hadis diatas sangat jelas maknanya, yang pertama berupa perintah kepada orang-orang yang mengaku beriman untuk mengerjakan dzikir sebanyak-banyaknya dan yang kedua menjelaskan keutamaan dzikir yang mengungguli kualitas peribadatan yang lain. Karena semua kewajiban yang dibebankan oleh Allah SWT., kepada manusia (shalat, puasa, zakat dan haji), mempunyai keringanan bila ada sebab-sebab yang jelas, kecuali kewajiban dzikrullah, tak ada suatu keadaan pun yang membolehkan untuk melalaikannya. Orang-orang yang beriman diwajibkan berdzikir ‘ketika berdiri, duduk dan berbaring’ (QS 3 : 191 dan QS 4 : 103), di waktu pagi, siang, sore dan malam hari, di laut, darat ataupun udara, di perjalanan atau di rumah, dalam keadaan kaya atau miskin, sakit atau sehat, dalam aktivitas atau diam, secara terang-terangan atau sembunyi, hakikatnya, di setiap saat selama hayat masih dikandung badan.

Ada kelompok orang yang berpendapat bahwa bila seseorang berbuat kebajikan yang sesuai dengan syariat Islam atau siapapun yang mematuhi perintah Allah SWT sesungguhnya ia telah melakukan dzikir, maka dalam pembahasan ini bukan itu yang dimaksud. Karena bila seseorang mengerjakan shalat lalu ingat akan besarnya pahala yang akan didapat, bukannya mengingat Yang Memberi Pahala dan juga bila seseorang bershodaqoh lalu mengharapkan imbalan berupa sepuluh kali lipatnya, bukannya mengingat yang melipatkan-Nya, maka keduanya jauh dari kriteria dzikrullah. Yang dimaksud dengan dzikrullah dalam lingkungan tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah adalah merupakan ibadat yang ‘rahasia’, dan oleh sebab ‘kerahasiaan’ itulah, maka bagi orang-orang yang ingin mengerjakannya wajiblah terlebih dahulu mendapatkan ijazah atau perkenan dari seorang Mursyid. Mengapa disebut ‘rahasia’, dikarenakan dzikir ini berurusan dengan yang ghaib, yaitu hati atau qolbi, namun bukan hati atau organ tubuh secara lahiriyah, akan tetapi sesuatu yang halus atau yang lembut yang tempatnya ‘berada’ di bawah puting susu sebelah kiri kira-kira dua jari. Dan Yang Maha Ghaib menciptakan dan menjadikan qolbu ini sebagai tambang ma’rifat dan khazanah rahasia-rahasia tauhid. Seperti sebuah hadis qudsi yang mengatakan bahwa Rasulullah,saw., bersabda : ”Allah berfirman : ‘Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) , itu ada istana, di situ ada dada, di dalam dada ada al-qalb, di dalam al-qalb ada fu’ad, di dalam fu’ad ada syaqaf, di dalam syaqaf ada lub, dan di dalam lub ada sirr, sedangkan di dalam sirr ada AKU.’” Dan ketika Rasulullah,saw., sedang bersama-sama dengan sahabatnya, beliau bertanya : ‘Adakah di antara kalian orang asing ? yakni ahl al-kitab.’ Mereka menjawab, ‘tidak ada yaa Rasulullah.’ Maka Rasulullah,saw., menyuruh menutup pintu dan bersabda : ‘Angkatlah tangan kalian dan katakan ‘Laa Ilaaha Illallaah.’ Maka seluruh sahabat yang berada diruangan itu mengangkat tangannya dan mengucap ‘Laa Ilaaha Illallaah.’ Lalu Rasulullah,saw., bersabda : ‘Yaa Allah, sungguh Engkau mengutusku dengan kalimat ini, menyuruhku dengannya, kau janjikan kepadaku surga dengannya, dan sungguh Engkau tidak pernah menyalahi janji.’ Kemudian beliau bersabda : ‘Berbahagialah kalian semua, karena Allah akan mengampuni kamu semua.’

Sesungguhnya manusia itu mempunyai dua jenis mata, yang satu adalah mata inderawi dan yang kedua adalah mata hati. Baik mata inderawi ataupun mata hati berfungsi untuk melihat, yang pertama untuk melihat alam syahadah, alam jasmani, atau alam indera, dan yang kedua untuk melihat alam malakut, alam ruhani, atau alam akal atau Syaikhuna menyebutnya ‘dairatul inkam’. Sewaktu berhaji beliau berdoa bagi murid-murid yang menyertainya : ‘Yaa Allah bimbinglah murid-muridku ini memasuki wilayah dairatul inkam.’ Jika diperumpamakan pendakian, wilayah dairatul inkam ini adalah merupakan suatu kewajiban bagi para pejalan untuk mendakinya, dan untuk mudah dicerna, dapat dikatakan bahwa alam syahadah ini adalah alam bawah dan alam malakut adalah alam atas, namun jangan diartikan bahwa alam atas adalah langit. Oleh sebab itu alam syahadah diperuntukkan bagi semua golongan manusia, sedangkan alam malakut dicipta hanya teruntuk manusia yang dipilih-Nya dan makhluk-makhluk ruhaniyah tentunya, dan yang ‘masuk’ kedalam lingkaran kesucian atau hadirat al quds hanyalah para Nabi dan para Wali.

Kedua jenis mata itu barulah bisa melihat sesuatu bilamana ada ‘cahaya’, yang pertama membutuhkan cahaya dari matahari, api, atau lentera dan yang kedua membutuhkan cahaya dari Al Qur’an dan Al Hadis. Mata inderawi yang dicipta untuk melihat alam syahadah, sangatlah terbatas dan mempunyai banyak kelemahan, karena ia tidak akan mampu melihat benda yang jauh dari mata ataupun yang sangat dekat dengan mata sekalipun. Bila seseorang melihat gunung, ia tidak dapat melihat sisi lainnya, dan juga hal-hal yang berada didalam gunung itu. Berbeda dengan mata hati, yang dicipta untuk melihat alam malakut atau alam-alam ghaib, ia dapat melihat hakikat segala sesuatu. Nah, bilamana mata inderawi membutuhkan makanan dan supplemen untuk memelihara kesehatannya, maka demikian juga mata hati, ia membutuhkan sesuatu agar kesehatan dan kedalaman penglihatannya semakin tajam, sesuatu yang dimaksud adalah dzikrullah. Sangking pentingnya dzikrullah ini, Syaikhuna (semoga allah merahmatinya) berkata : ‘Dzikrullah merupakan kewajiban bagi orang-orang yang bertarekat, apabila tertinggal karena sesuatu hal maka wajib di jama, bahkan seseorang yang mempunyai pangkat kewalian pun masih melekat kewajiban itu.’

Allah SWT berfiman : 'Katakanlah : ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat ? Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya) ? (QS 6 : 50) 'Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS 22 : 46)

Dzikrullah yang dikerjakan secara benar, sesuai dengan kaifiat-kaifiat yang baku, maka akan dengan cepat mempengaruhi dan mewarnai hati (qolbi), hati menjadi bening seperti cermin, dan hanya dengan menggunakan cermin ini seseorang dapat melihat kelemahan-kelemahan dirinya sendiri, bahwa dirinya adalah ‘baru’ atau yang terkemudian atau yang tercipta dan hina, dan juga dapat melihat sesuatu yang berada dibelakangnya (hakikat). Dan barang siapa dapat melihat atau mengenal dirinya sendiri maka dia akan mengenal Tuhannya. Jiwa akan mengalami perubahan-perubahan yang significant, dan sesorang akan dapat merasakannya secara umum. Sedangkan perubahan jiwa secara khusus hanya dapat diketahui oleh seorang Mursyid, lalu dengan pengetahuan dan kesabarannya, Sang Mursyid akan menerapkan terapi khusus kepada murid-muridnya, agar tujuan hidupnya menjadi benar seperti tuntunan dalam Al Qur’an dan Al Hadis.

Allah SWT berfirman : 'Maka bertanyalah kepada ahli dzikir (orang yang berpengetahuan) jika kalian tidak mengetahui. (QS 16 : 43)

Nabi,saw., bersabda : ‘Seutama-utama dzikir adalah Laa Ilaaha Illallaah.’

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berakta : ‘Dzikrullah adalah mengulang-ulang secara lisan atau secara lisan yang bersamaan dengan hati (qolbi) atau hanya hati (qolbi) saja menyebut kalimat thoyibah ‘Laa Ilaaha Illallaah’ atau menyebut ismudzat ‘Allah’ atau menyebut ‘Huwa.’ Dzikir adalah melupakan segalanya kecuali Allah.’ Kedengarannya pekerjaan ini mudah dilakukan, karena tidak memerlukan tempat dan waktu yang khusus. Seperti sabda Rasulullah,saw., : ‘Dzikir itu ringan diucapnya namun berat timbangannya.’ Akan tetapi pada kenyataannya manusia yang berdzikir sangatlah sedikit, mereka lebih suka melakukan dzikir dunia, yaitu menggunakan lisannya untuk banyak berbicara dan bernyanyi serta menggunakan hatinya untuk cakap-cakap yang buruk, dan kalaupun mereka berdzikir kepada Tuhan atau lebih tepatnya disebut bertasbih, dilakukannya hanya selepas shalat fardu, degan menyebut Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah dan Allahu Akbar masing masing sebanyak tiga puluh tiga kali, dengan bacaan yang sangat cepat, tanpa membawa rasa dan tata cara. Mungkin saja berdzikir dengan cara seperti itu akan berpahala, namun tidak akan membekas apapun kedalam hati dan mustahil akan berpengaruh kepada perubahan jiwa. Seorang Syaikh melantukan sebuah syair:

Bila engkau berjalan tanpa pembimbing, akan memerlukan waktu dua ratus tahun untuk perjalanan dua hari.

Allah swt., berfirman : 'Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah engkau kepada-Ku dan janganlah kamu mengingakri (ni’mat)-Ku. (QS 2 : 152)

Dzikir pada umumnya mempunyai pengertian ‘mengingat’, namun dzikrullah bukan sekedar ‘mengingat’, karena bila dikatakan ’mengingat’ maka sesuatu yang diingatnya belum tentu berbalas akan mengingatnya. Dzikrullah adalah ibadat yang bertaut-tautan antara pengingat dan yang Diingat, rahasia ini hanya dibukakan teruntuk umat Muhammad,saw., saja, seperti sebuah hadis yang meriwayatkan bahwa Jibril,as., mengatakan kepada Rasulullah,saw., bahwasanya Allah swt., telah berfirman : ‘Aku telah memberikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Kuberikan kepada ummat yang lain.’ Nabi, saw., bertanya kepada Jibril,as., : ‘Apakah pemberian itu ?’ Jibril,as., menjawab : ‘Pemberian itu adalah firman-Nya, berdzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan berdzikir kepadamu. Dia belum pernah memfirmankan itu kepada ummat lain yang mana pun.’

Di dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman : ‘Aku mengingat orang yang mengingat-Ku, menjadi teman duduk bagi orang yang bersyukur kepada-Ku, dan kekasih bagi orang yang mencintai-Ku. Barang siapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, Aku pun mengingatnya di dalam diri-Ku, barang siapa mengingat-Ku di tengah keramaian kaumnya, Aku pun mengingatnya di tengah keramaian para malaikat-Ku.’

Dan Allah,SWT., berfirman didalam hadis qudsi yang lain : ‘Aku seperti apa yang dipikirkan hamba-Ku mengenai-Ku, dan Aku bersamanya seandainya ia mengingat-Ku. Seandainya ia mengingat-Ku didalam dirinya, Aku pun mengingatnya di dalam diri-Ku, seandainya ia mengingat-Ku di dalam kelompok orang, maka Aku akan mengingatnya di hadapan kelompok yang lebih baik dari mereka, seandainya ia mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sedepa, dan seandainya ia mendekati-Ku sedepa, Aku akan mendekatinya selangkah. Jika ia berjalan mendekati-Ku, Aku berlari mendekatinya.’

Oleh sebab itu dzikrullah adalah pekerjaan orang-orang terpilih, yang dipilih Tuhan untuk menyebut-nyebut nama-Nya. Barang siapa merasa bahwa kemampuan dzikirnya karena usaha dirinya sendiri, maka rusaklah ketahuidannya, dan tercerai berailah tujuan dzikirnya. Dzikrullah adalah cahaya untuk menuju kepada Sumber Cahaya, energi untuk menuju kepada Sumber Energi dan ilmu untuk menuju kepada Sumber Ilmu. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Jika Allah SWT., menghendaki hambanya kebaikan, sungguh diberikannya dzikir kepadanya.’ Dan ‘Jika Allah menghendaki hambanya akan jadi wali dari antara banyak wali, ialah yang paling banyak berdzikir.’ Dan ‘Jika Allah,SWT., mencintai hambanya diilhaminya dzikir.’ Dan Nabi,saw., pernah berkata kepada sahabatnya : ‘Apakah engkau tidak mau kukabarkan amal-amal yang paling bersih di sisi Tuhan, doa yang paling tinggi derajatnya yang paling baik engkau miliki daripada belanja emas dan perak, paling baik daripada menghadapi musuhmu,’ lalu mereka memukul lehermu dengan pedang dan engkau membalas pukulan mereka.’ Sahabat bertanya : ‘Bahkan kita ingin dengar ya Rasulullah.’ Nabi,saw., menjawab : ‘Ialah dzikrullah.’

Seorang Syaikh berkata : ‘Selama Allah tidak ingat hamba-Nya dengan memberinya keberhasilan untuk mengingat-Nya, maka hamba itu tidak akan mampu mengingat-Nya.’

Abu Sulaiman ad-Darany (semoga Allah merahmatinya) berkata : ”Ketika seseorang mulai berdzikir kepada Allah, para malaikat mulai menanam pepohonan di lembah-lembah di surga, terkadang ada malaikat berhenti menanam dan malaikat yang lain bertanya alasanya, dijawab : ‘Sahabatku telah kendor dzikirnya.’”

Dzikrullah adalah merupakan ilmu tahapan, maka secara bertahap seorang Mursyid akan mewariskan ilmu dzikirnya kepada murid-murid yang telah siap menerimanya secara bertahap pula, di awali dengan dzikir jahr (dzikir yang bersuara) lalu meningkat kepada dzikir khafi (dzikir yang tidak bersuara). Sangat dilarang ilmu dzikir ini diberikan kepada orang lain tanpa perkenan dari Mursyid. Karena efek dari pengerjaan dzikir-dzikir yang dilakukan secara konsisten dan dengan kaifiat yang benar, akan mempengaruhi keadaan jiwa, dan akan terbuka jendela alam malakut, untuk itu murid harus dipantau secara terus menerus oleh Mursyid.

Yang pertama, dzikir jahr (dzikir yang dibunyikan), atau dzikir dharab (dzikir yang dipalukan kedalam hati sanubari, dapat berupa satu dhorob, dua dhorob atau tiga dhorob sampai enam dhorob), atau dikenal juga dengan sebutan dzikir nafi isbat, yang maksudnya adalah me-nafi-kan (meniadakan) tuhan-tuhan yang lain (laa Ilaaha), dan meng-isbat-kan (mengkukuhkan) hanya Allah saja kedalam qolbu (Illa Allah). Jadi yang diucap berulang-ulang adalah kalimat ‘Laa Ilaaha Illallah.’ Bayangkan, jika dengan kalimat thoyibah ini, hari kiamat tertahan untuk terjadi, lalu api neraka pun padam karenanya, maka tentulah sangat besar pengaruhnya bagi seseorang untuk mempertebal tingkat keimanannya dan menghancurkan noda-noda yang melekat pada hatinya (qolbu), sebagaimana sebongkah es yang berada diatas bara api. Dzikir jenis ini dapat dilakukan secara bersama-sama, membentuk suatu lingkaran, dalam keadaan bersuci (berwudlu), lalu menyebutnya dengan nada yang harmonis mengikuti suara Syaikh atau pemimpin dzikir, dan mengikuti gerakannya. Biasanya kholaqoh dzikir di adakan pada hari Jum’at malam dan Sabtu sore, selama jangka waktu empat atau dua jam, satu jam pertama digunakan untuk mendengarkan wejangan dari Syaikh dan jam berikutnya digunakan untuk dzikir bersama-sama. Dan dzikir jahr ini, dapat pula dilakukan secara sendiri-sendiri dengan mengulang-ngulangnya sebanyak sekurang-kurangnya seratus enam puluh lima kali banyaknya.

Keutamaan dzikir jahr atau dzikir dhorob secara berjamaah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah,saw : ‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi memiliki para Malaikat yang banyak mengadakan perjalanan mengelilingi bumi, senantiasa mencari majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menjumpai majelis yang ada dzikir, maka mereka ikut duduk bersama. Sebagian mereka mengelilingi yang lain dengan sayap mereka, sehingga mereka memenuhi antara mereka dan langit dunia. Apabila mereka pergi maka mereka naik ke langit. Lalu Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar berfirman kepada mereka pada hal Dia lebih mengetahui tentang mereka, ‘Dari manakah kamu?’, mereka menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-Mu di bumi, mereka me-Mahasucikan-Mu, me-Mahabesarkan-Mu, me-Mahaesakan-Mu, memuji-Mu dan mohon kepada-Mu.’ ‘Apakah yang mereka minta dari-Ku?’, mereka menjawab, ‘Mereka memohon kepada-Mu akan Surga-Mu’, ‘Apakah mereka melihat Surga-Ku?’, mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Tuhan,’ ‘Bagaimanakah seandainya mereka melihat Surga-Ku?’, mereka menjawab, ‘Mereka mohon diselamatkan kepada-Mu,’ ‘Dari apa mereka mohon diselamatkan?’, mereka menjawab, ‘Dari neraka wahai Tuhan,’ ‘Apakah mereka melihat neraka-Ku?’, mereka menjawab, ‘Tidak,’ ‘Bagaimanakah seandainya mereka melihat neraka-Ku?’ mereka berkata, ‘Mereka memohon ampunan-Mu,’ ‘Aku telah memberi ampunan kepada mereka, Aku memberikan apa yang mereka minta, dan Aku selamatkan mereka dari apa yang mereka minta diselamatkan,’ mereka menjawab, ‘Wahai Tuhan, di antara mereka terdapat fulan, seseorang yang banyak kesalahan, ia hanya lewat, lalu duduk bersama mereka,’ ‘Aku mengampuni mereka, mereka adalah suatu kaum yang teman duduk mereka tidak celaka.”

Tahap awal bagi seorang murid yang bersungguh-sungguh melakukannya akan terbiasa dengan pengucapan kalimat ‘Laa Ilaaha Illallaah,’ hatinya akan tercerahkan, oleh sebab itu beberapa tarekat menyebutnya dzikir pencerahan hati, maka secara tahap demi tahap akan ‘fana’ atau terbongkarnya sifat-sifat yang majmumah (tercela) berganti kepada sifat-sifat yang mahmudah (terpuji), dan sekaligus akan tertanam di dalam hatinya arti dari pada kalimat thoyibah ini ‘Tiada yang hidup kekal selain hanya Allah saja (hayyum baqo)’. Di tahap berikutnya pendzikir akan mempunyai pe-rasa-an yang benar tentang ‘jarak’ antara seorang hamba dengan Tuhannya, siapa sesungguhnya hamba dan siapa Tuhan, serta tingkat keimanannya akan terperbaharui setiap harinya, kecerdasannya menjadi-jadi, sehingga kalimat thoyibah itu mempunyai arti ‘Tiada sesuatupun yang disembah melainkan Allah (hayyum ma’bud).’ Tahap selanjutnya adalah ketahuidan sang pendzikir akan semakin bersih, peng-esa-an Allah se-esa-esa-nya semakin terjelaskan, hati akan semakin tercerahkan dan kosong dari selain-Nya, dirinya pun lenyap, dalam tahap yang demikian kalimat thoyibah ini akan mempunyai arti ‘Tiada sesuatupun yang maujud kecuali Allah (hayyum maujud).’

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Para sesepuh Banten menyebutnya dzikir arro atau dzikir gergaji, karena suaranya mirip gergaji, yaitu disaat mengucap ‘Illallaah’ dibunyikan di tenggorokan dengan suara yang panjang, dan mendatangkan rasa seolah-olah mengejar-ngejar Allah,SWT. Dzikir dengan cara ini akan dengan cepat membangkitkan kecintaan kepada Allah,SWT.’

Kaifiat Dzikir Jahr seperti tersebut dibawah ini, bila ingin mengamalkannya wajib mendapatkan perkenan dari seorang Syaikh dari tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah :

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ شَيْءٌ ِللهِ لَهُمْ – الفاتحة

ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ مَشَايِخِ أَهْلِ سِلْسِلَةِ الطَّرِيْقَةِ الْقاَدِرِيّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ وَجَمِيْعِ أَهْلِ الطَّرِيْقَةِ خُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ سَيِّدِناَ وَمَوْلاَناَ سُلْطَانِ اْلأَوْلِيَاءِ سَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقاَدِرِ الْجَيْلاَنِيِّ الْبَغْدَادِيِّ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ الْعَزِيْزَ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ أَبِي الْقاَسِمِ الْجُنَيْدِيِّ الْبَغْدَادِيِّ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ خَاطِبِ السَّمْبَسِيِّ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْكَرِيْمِ تَناَرَا الْبَنْتَنِيِّ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ اللهِ مُباَرَكْ Cibuntu وَشَّيْخِ نُوْرِ النَّوْمِ حَاجِ سُرْياَدِفْراَجَا بِنْ حَاجِ أَغُوْس تاَجُ الدِّيْن وشَّيْخْ حَاجِ أَحْمَدْ شَيْخِ الدِّيْن بِنْ حَاجِ أَمِيْنِ الدِّيْن وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَأَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ وَاْلآخِذِيْنَ عَنْهُمْ شَيْءٌ ِللهِ لَهُمْ – الفاتحة

ثُمَّ إِلَى أَرْواَحِ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَأَخْوَاتِنَا وَمَشَايِخِنَا فِي الدِّيْنِ وَإِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُمْ – الفاتحة

الإخلاص x 3، الفلق x1، الناس x1، الفاتحة x1، آلم x1، آيات الكرسي x1

 اَللَّهُمَّ اْفتَحْ لِيْ بِفُتُوْحِ اْلعَارِفِيْنَ x 7
 اَلْحَمْدُ لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ اْلحَبِيْبِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اْلهَادِيْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْم ٍx 3
 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ x3
 أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ اْلغَفُوْرَ الرَّحِيْمَ x3
 إِلهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ x3

أَسْتَغْفِرُ الله اْلعَظِيْمَ - x7

أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّه ُ
1- لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله حَيٌّ بَاقٍ
2- لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله حَيٌّ مَعْبُوْدٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله حَيٌّ مَوْجُوْد ٌ3-

لاَ مَقْصُوْدَ إِلاَّ اللهُ " لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله "”

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَةُ حَقٍّ عَلَيْهاَ نَحْيَ وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَبِهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلآمِنِيْنَ.


اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلأَهْوَالِ وَاْلآفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيْعَ اْلحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُناَ بِهَا أَقْصَى اْلغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ اْلخَيْرَاتِ فِي اْلحَيَاتِ وَبَعْدَ اْلمَمَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ واَلْحَمْدُ لله رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.

Yang kedua adalah dzikir khafi (tidak berbunyi) atau dzikir lathaif menyebut ismudzat didalam hati (qolbu) Allah .. Allah .. Allah, dzikir khafi ini mempunyai tujuh tingkatan, yaitu latifatul Qalbu, latifatul Ruh, latifatul Sir, latifatul Khofi, latifatul Akhfa, latifatul Nafs Natiqa dan Latifatul Kullu Jasad. Pada umumnya dzikir khafi ini dilakukan secara sendiri-sendiri sebanyak sebelas ribu kali banyaknya dalam satu hari. Pembagiannya ialah Latifatul qolbi sebanyak lima ribu kali dan yang latifah lainnya masing-masing seribu kali banyaknya. Dzikir khafi ini dipadu dengan tehnik-tehnik pernafasan, sehingga akan mencapai suatu keadaan dimana setiap nafas-nafas seseorang akan berisi dengan dzikir-dzikir. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata: ’Manfaatkan waktu sebaik-baiknya, jangan sampai ada satu tarikan nafas pun yang tidak berdzikir menyebut nama-Nya, karena nafas adalah umurmu yang terbuang.’

Rasulullah.saw. bersabda sehubungan dengan dzikir khafi ini : ‘Dzikir yang tidak didengar oleh malaikat Hafadhah (pencatat amal) melampaui dzikir yang didengar olehnya hingga tujuh puluh kali lipat.’

Dan beliau juga bersabda : “Di Hari Berbangkit nantinya Allah,SWT., akan mengembalikan semua makhluk pada perhitungan amalnya. Malaikat Hafadhah datang menghadap Allah,SWT., dengan hasil catatannya, Allah,SWT., berfirman : ‘Perhatikan baik-baik apakah masih ada amal kebajikannya ?’ Malaikat menjawab : ‘Segala hal yang kami ketahui dan kami catat sudah tidak ada yang tertinggal lagi, semuanya telah kami catat.’ Allah,SWT., berfirman : ‘Sesungguhnya hamba-Ku masih punya kebajikan, Aku akan membalas kebajikannya itu. Kebajikan itu adalah dzikir yang dilakukan dengan tanpa suara (dzikir khafi).”

Seorang Syaikh bertanya kepada Syaikh Azizan Ali ar-Ramitani (semoga Allah mensucikan ruhnya) berkenaan dengan ayat Al Qur’an yang berbunyi ‘Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah sebanyak-banyaknya. (QS 33:41). Apakah harus dikerjakan dengan lidah ataukah dengan hati ? Tuan Syaikh menjawab : ‘Bagi pemula yang terbaik adalah dengan lidah, karena hatinya masih belum stabil dan bersih serta masih dikacaukan oleh pikiran-pikirannya tentang warna warni kehidupannya. Untuk dapat mengingat Tuhan dibutuhkan usaha yang keras dan tekun, oleh sebab itu baginya lebih bermanfaat menyebutnya dengan lidah dengan bersuara dan gerakan yang khusus, agar hati yang kadung sudah tuli dapat mendengar dan membekas atas ke-esa-an-Nya. Sedangkan untuk ahlinya, yang terbaik adalah berdzikir dengan hati, yang dengan cepat akan mempengaruhi hatinya dan memenjarakan sifat-sifat buruknya yang lebih tersembunyi, meningkatkan kesadaran akan af’al-Nya dan sifat-sifat-Nya. Akan menjadikan seluruh unsur-unsur tubuhnya baik yang lahir ataupun yang batin dapat berdzikir di setiap keadaan. Dzikir yang dilakukan oleh ahlinya di dalam hati dalam satu hari, sama nilainya dengan dzikirnya pemula dengan lidah dalam satu tahun.’

Kaifiat Dzikir Lathaif seperti tersebut dibawah ini, dan barang siapa ingin mengamalkannya wajib mendapatkan perkenan atai ijazah seorang Syaikh dari tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah :

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ - الفاتحة


ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ مَشَايِخِ أَهْلِ سِلْسِلَةِ الطَّرِيْقَةِ الْقاَدِرِيّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ وَخُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ سَيِّدِناَ وَمَوْلاَناَ سُلْطَانِ اْلأَوْلِيَاءِ سَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقاَدِرِ الْجَيْلاَنِيِّ الْبَغْدَادِيِّ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ الْعَزِيْزَ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ أَبِي الْقاَسِمِ الْجُنَيْدِيِّ الْبَغْدَادِيِّ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ خَاطِبِ الشَّمْبَسِيِّ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْكَرِيْمِ تَناَرَا (اَلنَّوَوِيِّ الْبَنْتَنِيِّ) وَسَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ اللهِ مُباَرَكْ Cibuntu وَشَّيْخِ نُوْرِ النَّوْمِ حَاجِ سُرْياَدِفْراَجَا بِنْ حَاجِ أَغُوْس تاَجُ الدِّيْن وشَّيْخْ حَاجِ أَحْمَدْ شَيْخِ الدِّيْن بِنْ حَاجِ أَمِيْنِ الدِّيْن وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَأَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ وَاْلآخِذِيْنَ عَنْهُمْ شَيْءٌ ِللهِ لَهُمْ – الفاتحة

ثُمَّ إِلَى أَرْواَحِ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَأَخْوَاتِنَا وَمَشَايِخِنَا فِي الدِّيْنِ وَإِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُمْ - الفاتحة

* اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آل سَيِّدِنَاِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آل سَيِّدِنَاِ إِبْرَاهِيْمَ وباَرِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آل سَيِّدِنَاِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرِكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آل سَيِّدِنَاِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعاَلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ 15x/25x

* أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ رَبِّي مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ 15x/25x


* إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 3x/5x


أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ
1- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ حَيٌّ بَاقٍ
2- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ حَيٌّ مَعْبُوْدٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ حَيٌّ مَوْجُوْد 3-

لاَ مَقْصُوْدَ إِلاَّ اللهُ لَطِيْفَةُ اْلقَلْبِ ........ "الله" 5000 x
دُعاَءُ لَطِيْفَةِ اْلقَلْبِ

اَللَّهُمَّ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ وَافْضِ عَلَى لَطِيْفَةِ قَلْبِ أََنْوَارِ تَجَلِّي الأْفَعْاَلِ اْلفَائِضَةِ مِنْ قَلْبِ حَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَلْبِ صَفِيِّكَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ.

Yang ketiga adalah dzikir pentutup atau dzikir ‘Lam Nafi Isbat’, dikerjakan setelah menyelesaikan dzikir jahr dan dzikir khofi. Adalah dzikir dengan tehnik pernafasan yang tinggi yang dipadu dengan gerakan dengan selalu mempertahankan bilangan ganjil. Hati menyebut kalimat thoyibah ‘Laa Ilaaha Illallah’ dengan tehnik pernafasan dan gerakan tertentu, dan pada bilangan ganjil nafas secara perlahan-lahan dikeluarkan sambil menyebut ‘Muhammad Darasulullah’. Dilakukan sebanyak banyaknya dua puluh satu kali. Keutamaan dzikir dengan cara ini adalah akan membersihkan hati dari kemunafikan dan membangkitkan rasa cinta yang membara.

Yang keempat adalah dzikir khusus, yang diberikan hanya kepada murid-murid tertentu saja, yaitu dengan menyebut Ya Hu … Ya Hu … Ya Hu dengan nada yang seimbang antara Ya dan Hu sehingga penyebutan Ya Hu dan Hu Ya nyaris sulit dibedakan. Dan yang sangat khusus adalah dengan menyebut Yaa Huuu Haq … Yaa Huuu Haq … Yaa Huuu Haq, Yaa diucap pendek dan Huuu diucap agak panjang, serta seolah-olah ada tasydid atau siddah dianta Yaa dan Huuu (Yaah Huuu) dan di saat menyebut Haq dihisap kedalam perut, dan merasakan atau mengisbatkan Yang Haq kedalam diri.

Berkenaan dengan dzikir Ya Hu ini ada sebuat riwayat mengatakan, seorang pemuda sedang berjalan ditepi sungai, ia mendengar suara yang mengulang-ulang suatu ungkapan, ‘Tak ada maknanya itu,’ katanya kepada dirinya sendiri, ‘sebab orang itu salah melafalkannya, seharusnya Ya Hu, ia bilang U Ya Hu.’ Kemudian ia menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban, sebagai murid yang lebih teliti untuk membetulkan ucapan orang yang patut dikasihani itu. Lalu ia menyewa sebuah perahu kecil untuk membawanya menuju pulau di tengah-tengah sungai dimana suara tadi berasal. Ditemukannya seorang tua duduk di sebuah gubug yang terbuat dari alang-alang yang mengenakan jubah bertambal, bergerak-gerak sambil mengucapkan ungkapan tadi. ‘Sahabat’ kata sang pemuda ‘Engkau keliru melafalkan ungkapan itu, sudah kewajibanku untuk memberitahumu, sebab ada pahala bagi mereka yang memberi dan menerima nasihat. Beginilah ucapan yang benar.’ Lalu diberitahukannya ucapan itu. ‘Terima kasih’ kata orang tua yang memakai jubah bertambal dengan rendah hati. Pemuda tadi naik kembali ke perahunya, merasa puas karena telah melakukan suatu perbuatan baik. Konon, orang yang bisa mengulang-ulang ungkapan rahasia itu dengan benar, akan bisa berjalan di atas air. Pemuda tadi telah bertahun-tahun mengamalkannya, namun belum pernah merasakannya. Kini, ia tak mendengar lagi suara dari gubug alang-alang itu, dan yakin bahwa pelajarannya sudah diterima dengan baik. Tak lama kemudian, didengarnya kembali ungkapan yang lebih keliru U … Ya oleh orang tua tadi. Sang pemuda berkata dalam hatinya, ‘Betapa manusia sering kali keras kepala mempertahankan kekeliruannya.’ Disaat ia melantukan buruk sangkanya, tiba-tiba ia melihat pemandangan yang ganjil, munculah orang tua tadi mendatangi perahunya, sambil berjalan diatas air! Ia pun berhenti mendayung karena takjub. Orang tua itu berkata, ‘Hai anak muda, maaf saya mengganggu, tetapi saya harus menemuimu untuk menanyakan kembali cara pengucapan yang benar yang kisanak sampaikan tadi, sebab saya kesulitan untuk mengingatnya.’

Banyak orang yang merasa aneh mendengar dzikir Ya Hu ini, mereka bertanya-tanya apa makna dan manfaatnya. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ”Berdzikir dengan cara menyebut Huwa diperuntukan bagi murid-murid tertentu saja yang sudah tenggelam didalam dzikir-dzikirnya, seperti yang termaktub didalam ayat pertama dari surat Al Ikhlash yang berbunyi ‘Qul Huwa Allahu Ahad, Huwa adalah hakikat Dzat, Allahu adalah ismu Dzat (nama Dzat) dan Ahad adalah salah satu nama dari 99 nama-Nya yang terindah.’ ”

Yang kelima dalah dzikir yang sangat khusus, disebut dzikir wuquf dikerjakan dalam keadaan relaks, khususnya setelah khatam atau menyelesaikan dzikir lathief, atau setelah menyelesaikan dzikir Lam Nafi isbat, dalam keadaan duduk bersila, seluruh tubuh dimatikan, mata dipejamkan dan lidah dilipat keatas, lalu biarkan seluruh unsur-unsur yang ada didalam tubuh ini berdzikir menyebut ismul azhom .. Allah ... Allah ... Allah dilakukan sebanyak-banyaknya.

Syaikh Sa’ied al-Kharraz (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Apabila Allah akan menjadikan seorang hamba sebagai kekasih-Nya, maka Allah akan membukakan pintu dzikir kepadanya. Jika sang hamba telah merasakan kelezatan dzikir, maka Allah akan membuka pintu kedekatan. Lalu Allah mengangkat hamba itu pada posisi senang. Setelah itu Allah mendudukan sang hamba di atas singgasana tauhid. Berikutnya Allah menyingkapkan tirai (hijab) bagi sang hamba dan menempatkan hamba itu di dalam rumah kesendirian. Kemudian barulah Allah membuka tirai keagungan dan kebesaran-Nya pada sang hamba itu. Ketika pandangan sang hamba terarah pada keagungan dan kebesan-Nya, ia akan kekal dengan tanpa Dia. Sejak itulah, sang hamba menjadi sebuah waktu yang sirna, tanpa kesadaran diri. Maka akhirnya sang hamba akan senantiasa berada dalam lindungan-Nya dan terbebas sama sekali dari dorongan-dorongan yang muncul dari dirinya sendiri.’

Tiada kata-kata yang mampu menggantikan atau menggambarkan keindahan dari pada dzikir ini, bak memandang langit di malam hari, semakin lama dipandang semakin memberikan kedamaian, kaifiatnya sebanyak bintang-bintang yang berkilauan, manfaatnya bak cahaya bulan yang menerangi kegelapan, oleh karena itulah Rasulullah,saw., bersabda : “Hari kiamat itu tidaklah akan terjadi hingga sudah tidak ada lagi orang yang mengucapkan lafal ‘Allah .. Allah .. Allah’ di muka bumi ini.”

Allah SWT melarang bergaul dengan orang-orang yang lalai dari dzikrullah dan yang menghabiskan waktunya hanya untuk mencari kehidupan dunia saja, serta mengharuskan menjalin persahabatan dan meningkatkan kesabaran bersama-sama dengan orang-orang yang berdzikir diwaktu pagi dan petang, sesuai degan firman-Nya :
Berpalinglah dari orang-orang yang lalai dari mengingat kepada kami, yang hanya mencari kehidupan di dunia. (QS 53 : 29)
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS 18:28)


Ayat-ayat dalam Al Qur’an yang berkenaan dengan perintah berdzikir:

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya. (QS 2 : 114)
Berdzikirlah kepada Allah di tempat masy’arilharam (di Muzdalifah) dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu.’ (Qs 2 : 198)
Apabila telah menyelesaikan ibadah hajimu, berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau berdzikirlah lebih bayak dari itu. (QS 2 : 200)
Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. (QS 2 : 203)
Orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring. (QS 3 : 191)
Jika engkau telah menuaikan sembahyang ingatlah kepada Allah diwaktu berdiri, di waktu duduk atau di waktu berbaring. (QS 4 : 103)
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS 20 : 14)
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS 8 : 45)
Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS 33 : 35)
Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. (QS 33 : 41)
Dan Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS 59: 19) 'Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu itu menghalangi engkau dari mengingat Allah, barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang rugi. (QS 63: 9)


Keadaan ahli dzikir di alam dunia seperti yang termaktub dalam Al Qur’an dan Al Hadis :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.(QS 8 : 2) 'Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. (QS 39:23) '(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS 13:28)

Dzikir kepada Allah bagi orang lupa sama halnya bila saat kesabaran dalam kesusahan.

Andaikan yang berdzikir kepada Tuhannya dibanding dengan yang tidak dzikir sama perbedaan antara orang hidup dan orang mati.

Berdzikir pada Allah waktu pagi dan petang adalah lebih mulia dari memanggul pedang fisabilillah dan mendermakan harta.

Adapun akhli dzikir ialah ahlullaah pada khususnya.

Jika Allah menghendaki hambanya kebaikan, sungguh diberikannya dzikir kepadanya.

Jika Allah mencintai hambanya diilhaminya dzikir.

Dalam keadaan lupa ia terus berdzikir seperti pohon kayu yang rindang lagi hijau di tengah pohon yang kering.

Tidak ada satu kaum yang mereka itu duduk berdzikir kepada Allah, melainkan datanglah malaikat-malaikat melindungi dan meliputi mereka dengan rahmat. Turunnya malaikat itu membawa ketenangan dan Allah mengingat mereka sebagai orang yang ada di di sisinya.

Andaikata seorang lelaki berada didalam kamar yang penuh uang yang dibagi-bagikan, sedang yang lain berdzikir kepada Allah, tentu yang berdzikir itu lebih mulia.

Ataukah tidak seorang manusia yang di dalam hatinya membangun salah satu dari keduanya, yaitu malaikat dan yang lainnya syaithoon, kalau berdzikir kepada Allah, binasalah syathoon dan bila tidak berdzikir maka syathoon meletakkan api yang berat dalam hatinya untik meragukannya.

Aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Taala dari sembayang Subuh sampai dengan terbit matahari, aku lebih sukai daripada memerdekakan empat orang dari anak cucu Nabi Ismail.

Aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Taala dari sembayang ashar sampai dengan terbenamnya matahari, aku lebih sukai daripada memerdekakan empat orang dari anak cucu Nabi Ismail.

Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai oang berkata ‘anda gila’.

Siapa yang sembayang subuh secara berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian sembayang lagi dua rakaat adalah baginya pahala seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.

Allah Taala memerintahkan Nabi Yahya supaya menyeru bani israil lima kalimat, salah satu diantaranya ialah dzikir kepada Allah. Kalau dimisalkan demikian seperti seorang lelaki yang keluar di waktu pagi ia cepat mendapatkan bekas kaki, sehingga tiba di suatu benteng, di situlah ia berlindung untuk menjaga dirinya. Demikian seorang hamba tidak dapat membentengi dirinya, agar terjaga dari syaithoon, kecuali dzikir kepada Allah Taala.

Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah : ‘Wahai Rasulullah bahwa syariat agama telah berkumpul pada aku, beritahukanlah kepada ku sesuatu yang bisa aku bertekun tetap mengamalkannya. Nabi bersabda : ‘Basahi lidahmu selalu berdzikir kepada Allah Taala.

Sayyidina Umar bin Khatab r.a., berkata : Orang yang berdzikir kepada Allah di pasar niscaya akan datang nanti di hari kemudian bagianya cahaya bulan, bersinar seperti cahaya matahari dan barang siapa memohon ampun di pasar, maka ia diampuni dosanya sebanyak isi pasar itu.

Anas bin Malik,ra., berkata : ‘Tak sejengkal tanah ada orang berdzikir kepada Allah dengan bersembahyang atau hanya berdzikir kecuali berbanggalah dan bergembira yang ada di sekeliling bumi dan memujinya dan tak ada suatu rumah yang didiami suatu kaum kecuali rumah itu berselawat pada mereka atau melaknat mereka.

Abu Hurairah,ra., berkata : ‘Sesungguhnya isi langit memandangi rumah-rumah penduduk bumi yang didalamnya disebut-subut nama Allah, sebagaimana tampaknya pandangan bintang-bintang di langit.’

Sufyan bin Umaenah,ra., berkata : ‘Bila berkumpul suatu kaum berdzikir kepada Allah, terhindarlah syaithoon dan duniawi, maka berkatalah syaithoon kepada dunia, adakah engkau lihat itu ? menjawablah dunia : ‘sesungguhnya jika mereka berpisah aku mengambil ubun-ubunnya untuk kuserahkan kepadamu.’

Hadis Nabi,saw., yang berkenaan dengan keadaan ahli dzikir di alam Barzakh :

Rasulullah,saw., bersabda : ‘Tidak ada bagi pemilik (orang yang mengucapkan dan mengamalkan) Laa Ilaaha Illallaah ketakutan di dalam kubur dan ketika dibangkitkan (dari kubur). Seakan aku melihat mereka keluar dari kubur sambil membersihkan tanah dari kepala mereka seraya berkata : ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dari kami rasa sedih. Sesungguhnya Tuhan kami Maha Pengampun lagi Maha Membalas jasa.’

Syaikh Al Hakim Al Tirmidzi (semoga Allah merahmatinya) berkata sehubungan dengan hadis tersebut : ‘Hilangnya ketakutan di dalam kubur dan ketika dibangkitkan dari kubur adalah karena mereka mendapat kabar gembira bahwa mereka selamat dari siksa dan hisab, mendapat cahaya di hari kiamat, mencium wewangian ketika dicabut nyawa, dan kejernihan (nadhrah) wajah di akhirat, serta kesenangan hati.’

Tak ada sedekah lebih mulia daripada dzikir kepada Allah.

Orang-orang yang memandang enteng dzikir kepada Allah, mereka menganggap dzikir sebagai suatu beban, maka mereka akan datang di hari kiamat dalam keadaan ringan.

Hadis Nabi,saw., yang berkenaan dengan keadaan ahli dzikir di hari berbangkit :

Nabi,saw., ditanya, ibadah manakah lebih mulia derajatnya di sisi Allah Taala pada hari kiamat ? dijawab : ‘Ialah orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah yang paling mulia.’

Tidak ada amal manusia yang melepaskan dari azab neraka sama dengan amal dzikrullah sekalipun jihad fisabilillah.

Barang siapa suka diangkat ke taman surga hendaklah memperbanyak dzikirnya.

Orang-orang yang lidahnya selalu terus menerus basah karena berdzikir kepada Allah mereka itu masuk surga dengan tertawa.

Amal-amal yang paling disukai oleh Allah adalah sewaktu akan mati sedang lidahmu basah mengucapkan dzikir kepada Allah Taala. Atau Lidah basah berdzikir diwaktu pagi dan petang.

Tak ada yang menyesal penghuni surga nanti, kecuali orang-orang yang saat matinya di dunia tidak diakhiri dengan berdzikir lidahnya kepada Allah Taala.

Tidak ada dari suatu kaum, mereka duduk pada suatu mejelis, mereka bercerai-berai dan tidak berdzikir kepada Allah Taala di tempatnya itu, melainkan mereka berpisah pisah seperti orang yang meninggalkan bangkai himar, adakah mereka rugi dihari kiamat.

Membaca Laa ilahaa Illallaah secara ikhlas dan diripun mukhlis niscaya akan masuk surga.

Akan diketahui golongan yang mempunyai kemuliaan pada suatu hari nanti. Nabi saw ditanya : ‘Siapa golongan yang dimaksud ya Rasulullah ?’ Beliau menjawab : ‘Ialah golongan yang duduk di majelis berdzikir dalam mesjid.’

Bukannya berdzikir diwaktu subuh dan bukan pula diwaktu sore melainkan di mana saja di sekitar bumi ini, sebagian dengan sebagiannya saling memanggil, adakah sudah berlalu seseorang berselawat kepadamu atau berdzikir kepada Allah, maka sahut sebagiannya, ada, sedang sebagian lagi menyahut, tidak. Kalau ia bekata ‘ya ada, aku tahu bahwa baginyalah kemuliaan dan tak ada seorang hamba Tuhan di bumi ini yang dzikir atau bersalawat, kecuali aku naik saksi di sisi Tuhannya dan kami menangisi saat hari matinya.

MATSUURA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Duhai matahari pagi !
Dihadapanmu, apa arti sebutir debu,
Yang tersiksa pedihnya rindu.

Kumpulan doa-doa mustajab yang biasa atau yang khusus dilantunkan oleh manusia terbaik sepanjang masa Sayyidina Muhammad saw disebut Ma`tsuura. Menurut Ustadz Marwan (semoga Allah mengasihinya) pemimpin pengajian di Palembang mengatakan bahwa, Syaikh Hasan Al Banna yang wafat secara syahid, telah berhasil menyusun doa-doa ini kedalam satu kitab, dan sampai saat ini umat Islam diseluruh dunia menggunakannya sebagai doa atau wirid harian.

Ma`tsuura juga dapat berarti sebuah nama seorang wanita setengah baya yang hidup di Bukhara, Republik Uzbekistan. Beliaulah yang menemani Syaikhuna selama beberapa hari berziarah ke makam para ahli silsilah tarekat Naqsyabandiyah. Jumlah ahli silsilah yang berada di Bukhara sebanyak delapan, akan tetapi mereka menyebutnya seven pir atau tujuh wali. Alasannya tidak diketahui, ke tujuh wali tersebut adalah Kwaja Abdul Khaliq Al-Ghujdawani (w-1220), Syaikh Arif Ar Riwakari (w-1239), Kwaja Mahmud Al-Anjir Al-Faghnawi (w-1317), Syaikh Azizan Ali Ramitani (w-1321), Syaikh Muhammad Baba As-Samasi (w-1354), Syaikh Sayyid Amir Kulal Al Bukhari (w-1370), dan Syaikh Muhammad Bahaudin Syah Naqsyaband (w-1388), walaupun masih ada seorang ahli silsilah lagi yaitu Syaikh Alaudin Al Attar (w-1400), akan tetapi beliau tidak dimasukkan kedalam kelompok seven pir ini. Sedangkan di Samarkand berjumlah tiga waliyullah yaitu Syaikh Ubaidillah Ah-Ahror As-Samarkand (w-1490), Syaikh Muhammad Az-Zahid Badaksyi (w-1529) dan Syaikh Darwish Muhammad (w-1562), jadi seluruhnya berjumlah sebelas ahli silsilah berasal dari Bukhara As-Syarif dan Samarkand. Persis seperti jumlah prinsip pada tarekat ini, delapan berasal dari Kwaja Abdul Khaliq Al-Ghujdawani dan tiga berasal dari Syaikh Muhammad Bahaudin Syah Naqsyaband.

Masih ada ulama-ulama lain yang tersohor dan mempunyai kedudukan yang tinggi, sebut saja Imam Bukhari periwayat hadis yang termasyhur itu, yang dapat menghafal lebih dari tiga ratus ribu hadis, dan dapat memisahkan hadis yang shahih, dhaif dan palsu. Lahir di Bukhara dan dimakamkan di Samarkand. Seperti juga di negeri kita, masyarakat Islam menyebutnya wali songo, bukan berarti di masa itu hanya ada sembilan wali, masih ada beberapa wali besar yang hidup sezaman dengan mereka, namun tidak digolongkan kedalamnya.

Di negeri yang baru lima belas tahun merdeka dari tangan Uni Sovyet ini, bukan saja ajaran tarekat yang hampir hilang bahkan syariat Islam pun nyaris punah. Disinilah tiga tahun yang lalu Syaikhuna berkata kepada seorang muridnya : ‘Bulan terang di Bukhara,’ dan ucapan beliau ini sungguh-sungguh menjadi kenyataan, yang tadinya masjid-masjid kosong dari jamaah sekarang sudah mulai terisi, terlihat beberapa wanita sudah mengenakan jilbab, sudah ada yang melantunkan azan tatkala memulai shalat fardu, madrasah-madrasah mulai digunakan, buku-buku agama mulai dikumpulkan kembali, bangunan-bangunan yang hancur di rekontruksi. Naskah asli karya-karya agung para masyaikh terdahulu dikumpulkan dan disimpan didalam mesium, seperti mastnawi-nya Syaikh Jalaluddin Rumi dan Haft Aurang karya Syaikh Abdurrahmaan Jaami dari Parsi yang sempat mengabdi kepada Syaikh Ubaidillah Ah-Ahror As-Samarkand, sebuah koleksi yang berisi tujuh kisah dalam bentuk mastnawi, yang paling terkenal adalah kisah Yusuf dan Zulaikha.

Ma`tsuura, seorang wanita berusia lima puluh lima tahun, berperawakan besar dan masih tampak gagah, berbekal pengetahuan dari buku-buku yang dibacanya tentang tasawuf dan sejarah para masyaikh tarekat Naqsyabandiyah berikut ucapan-ucapan, ajaran-ajaran serta karomah-karomahnya, membuat ia mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, untuk menjadi penunjuk jalan ketempat para masyaikh tersebut dimakamkan. Pagi-pagi, ia sudah berada di lobby hotel, udara yang dingin menyengat terkalahkan oleh kehangatan pengetahuannya, lalu seorang murid datang menemuinya, ia mengucap salam dan memperkenalkan diri, terjadilah perbincangan yang ringan dan serius. Begitu sang murid berkata bahwa kedatangannya disini untuk menyertai gurunya seorang Syaikh dari tarekat Naqsyabandiyah, M’atsuura terhenyak dan memekik dengan kerasnya, ‘Yaa Allah benarkah ?’ Bergegas ia mencocokan silsilah (atau ‘golden chain’ begitulah ia menyebutnya) yang diberikan oleh murid itu dengan buku yang dibawanya, mulailah airmatanya deras mengalir, ‘sungguh ini otentik’ katanya, seluruhnya sama sampai dengan urutan ahli silsilah yang ke tiga puluh satu, berulang-ulang hanya terdengar kata-kata ‘Yaa Allah … Yaa Allah … Yaa Allah’. Bagaimana tidak, sudah lebih dari tiga puluh tahun, ia sangat merindukan pertemuan dengan seorang Syaikh, khususnya ahli silsilah dari tarekat Naqsyabandiyah. Inginlah ia mendapatkan setetes anggur dari cawan biru samudera pengetahuan seorang Syaikh, karena ia menyadari bahwa pengetahuan tasawuf yang ia dapatkan dari buku-buku, sama sekali tidak memberikan manfaat kepada perubahan jiwanya.

Bukhara bercahaya karena ketinggian kedudukan para wali dari tarekat ini, dan melegenda keseluruh dunia yang karomahnya masih dibicarakan hingga saat ini. Bahkan para tehnokrat di negara Eropa dan Amerika dengan tekun membuat penelitian atas karya-karyanya dan tidak sedikit yang memeluk agama Islam karenanya, dan banyak juga yang hanya bisa terkagum-kagum lalu membuat komentar-komentar yang menakjubkan. Nyaris tidak ada lagi ahli silsilah didalam satu negara, yang turun temurun tanpa terputus berada disuatu kota sebanyak delapan Syaikh, berarti, cahaya ini terus menerus berada disana hampir empat ratus tahun lamanya. Diatas bumi ini, sejarah yang demikian mengagumkan hanya bisa terjadi di Bagdad dan Bukhara saja. Akan tetapi sangat disayangkan, peninggalan sejarah Islam, berupa bangunan-bangunan klasik dengan ornamen-ornamen khas Bukhara dan Samarkand yang sulit dicari bandingannya, dan keindahan ajaran tarekat ini dimusnahkan oleh tangan-tangan jahil, buku-buku tasawuf dibakar, rubat atau khanaqah tempat digemblengnya para salik di tutup, madrasah tempat menimba ilmu syariat disegel, bahkan tidak sedikit yang diratakan dengan tanah. Selama hampir tujuh puluh dua tahun lamanya, atau hampir tiga generasi tidak lagi mengenyam ajaran Islam, semua merasakan ketakutan dibawah cengkeraman penguasa yang komunis, kita bisa bayangkan seperti apa pelaksanaan syariat Islam disana. Sungguh kepedihan yang luar biasa, Islam masuk ke Indonesia dari negeri yang indah ini dan sekarang Syaikhuna datang untuk mengajarkan kembali sesuatu yang diterimanya dari sana. Alhamdulillah, ditengah-tengah puing-puing reruntuhan itu, masih ada yang tersisa dan sangat berharga, yaitu kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan waliyullah masih sangat tinggi, mereka meyakini bahwa barokah-barokah para wali inilah yang membuat alam semesta merunduk melayani kebutuhan makhluk. Maka dari itu, seorang Ma`tsuura nyaris tenggelam dan hanyut kedalam lautan cahaya, seolah-olah mimpi yang menjadi kenyataan, saat berhadap-hadapan dengan Syaikhuna.

Jangankan seorang Ma`tsuura,
Bumi pun lenyap tatkala berhadapan dengan Syaikhuna.

Hadrat Syaikh kadang-kadang Khoja (Hoja) Achmad, begitulah M’atsuura menyebut nama Syaikhuna, gelar yang biasa disemayamkan kepada para syaikh-syaikh agung terdahulu, dan beliau selalu berkata : ‘Apa yang akan saya sampaikan ini, saya peroleh dari membaca buku-buku, saya yakin Hoja Achmad lebih mengetahuinya, mohon saya ditegur bila ada hal-hal yang kurang berkenan.’ Hoja atau kita mengenalnya Kwaja atau jamaknya Kwajagan adalah gelar bagi seorang Syaikh yang sudah mencapai ketinggian maqom spiritual, lalu para pengikutnya memberikan sebutan tarekatnya mengikuti gelar gurunya. Oleh karenya tarekat ini mengalami perubahan nama dari abad ke abad. Semenjak masa Abu Bakar ash-Shiddiq,ra., hingga masa Bayazid al-Bistami,ra., dinamakan ash-Shiddiqiyah. Dari masa Bayazid al-Bistami,ra., hingga masa Hadrat Abdul Khaliq al-Ghujdawani,qs., dinamakan at-Tayfuriyah. Dari masa Hadrat Abdul Khaliq al-Ghujdawani,qs., hingga masa Syaikh Muhammad Bahaudin Syah Naqsybandi,qs., dinamakan Khwajaganiyah. Dari masa Syaikh Muhammad Bahaudin Syah Naqsybandi,qs., hingga kini masa Hadrat Syaikh Al Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) dinamakan Naqsybandiyyah.

Siapa bilang di Bukhara dan Samarkand tiada lautan,
Ketauhilah disana tidak ada apa-apa kecuali lautan,
Terceluplah sebentar wahai sahabat!
Sungguh merupakan kebahagiaan.

Bukhara, ‘the door of Islam’, begitulah masyarakat disana menamainya. Begitu banyak madrasah yang dibangun oleh ulama-ulama terdahulu, bangunannya sangat besar dan mengagumkan, bentuknya unik dan selalu mempunyai pintu gerbang (portal mereka menyebutnya) ber-ukuran raksasa dan mi’rab yang menakjubkan. Ornamennya indah perpaduan antara garis lurus yang saling menyilang ataupun sejajar yang membentuk bintang segi lima, delapan dan dua belas yang saling mengikat, menyilang dan simetris, ditambah dengan kombinasi warna biru yang dominan, serta warna hijau dan coklat muda. Tampaknya warna merah tidak digunakan dalam pembuatan ornamen-ornamen ini, alasannya tidak diketahui, akan tetapi didalam riwayat dapat kita jumpai, bahwa Rasulullah, saw., tidak memperkenankan seseorang tidur dengan beralaskan kain atau sprei yang berwarna merah. Dan begitu pula Syaikhuna, beliau melarang murid-muridnya mengenakan pakaian yang berwarna merah. Singkatnya, ciri-ciri madrasah dan rubat atau khanaqah adalah perpaduan antara ketelitian, kecermatan, ketekunan dan kejeniusan, dan kesemuanya ini tidaklah mungkin dapat dicapai hanya dengan menggunakan akal intelektualitas saja, melainkan didominanasi oleh kehebatan akal spiritual.

Pendidikan syariat Islam tidak dapat dipisahkan dengan tarekat dan sebaliknya, dimana ada madrasah, disitu selalu ada rubat atau khanaqah, bak dua helai serat bambu, tetap saja disebut serat, sebelum dibelitkan satu dengan yang lainnya, maka jadilah seutas tali yang kokoh, begitu pula bila pendidikan syariat yang disatukan dengan pendidikan tarekat, maka akan diperoleh hasil yang menajubkan, khususnya akan terbuka hakikat atas segala sesuatu dan pengenalan terhadap Allah SWT dengan sebenar-benar mengenal-Nya. Seperti didalam riwayat bahwa Rasulullah saw, sering bermimpi melihat susu dan tali, dan beliau bersabda : “Susu adalah Islam dan tali adalah Al Qur’an.” Ini bermakna bahwa susu merupakan minuman kehidupan lahir yang menyehatkan, dan Islam merupakan minuman kehidupan batin, sedangkan tali adalah pegangan untuk keselamatan, dan Al Qur’an pun demikian adanya. Mari kita melongok sebentar kenegeri kita yang tercinta ini, hampir setiap pelosok ada pondok pesantren dan pada umumnya pondok pesantern dibangun dengan dana yang terbatas dan hanya mengajarkan ilmu syariat saja, walaupun pengurus pondoknya ada yang bertarekat. Karena keterbatasan itu, rubat atau khanaqah dilupakan untuk dibangun, oleh karenya begitu seseorang lulus dari pondok pesantren jiwanya kering bak sebuah guci, di isi air ataupun tidak, akan mudah pecah bila terpukul sebuah palu. Bahkan ada seorang sahabat merasa khawatir, bila kelak nanti, seorang putranya yang sedang mengenyam pendidikan Islam di salah satu pesantren di Jawa Timur, akan menjadi ‘sombong’ dan banyak ‘meracau’ atas pengetahuan yang didapatnya, bukannya gemar mengamalkan hanya untuk Allah semata.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Tidaklah dibenarkan seseorang yang bertarekat tanpa bersyariat, itu disebut zindiq, dan orang yang bersyariat tanpa bertarekat itu disebut fasiq.’

Istilah uwaisy sangat kental ditelinga mereka, adalah pengajaran ilmu tasawuf yang khusus secara spiritual tanpa harus bertemu secara lahiriyah, diambil dari nama Imam Uways Al Qurni yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw., walaupun Imam Uways belum pernah bertemu secara phisik dengan Rasulullah saw., akan tetapi ia mempunyai kedudukan yang tinggi, bahkan Rasulullah saw., pun ‘mengenalnya’ dan berkirim salam kepadanya, serta meminta doa untuk keselamatan umatnya. Oleh sebab itu, mereka sangat percaya bahwa apabila seseorang pergi ber ziarah kemakam seorang wali atau khususnya seven pir maka diyakini akan mendapatkan energi atau nuur secara uwaisy yang dapat membuka sesuatu yang tertutup, membuat wajah yang redup menjadi bercahaya, membongkar tirai-tirai kesedihan dan kepedihan serta mengendurkan ikatan didalam dada. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Setiap makam seorang wali dijaga paling tidak oleh dua malaikat, yang akan menunaikan amal-amal orang-orang yang berdatang menziarahinya.’ Nah, jika kita merasa golongan orang-orang yang tidak patuh terhadap perintah dan larangan-Nya, yang menjadikan doa-doa dan amal-amal mengambang diantara langit dan bumi, maka pergi berziarah kemakam para wali adalah merupakan tindakan yang terpuji.

Berjalanlah ke Bukhara
Sujudlah di Samarkand, tanpa itu !
Engkau tak kan mampu berjalan kedalam dirimu.

Pada umumnya, mereka membagi menjadi dua kelompok orang-orang yang bertasawuf, yang pertama mereka sebut darwish, yaitu kelompok yang tidak bekerja mencari nafkah, kesehariannya di isinya dengan beribadah secara keras lalu sebagai perongkosan kehidupannya ia hidup meminta-minta, yang kedua adalah kelompok yang hidup bermasyarkat seperti biasa dan bekerja mencari nafkah, akan tetapi melakukan riyadhah dan mujahadah secara tangguh serta mempunyai tekad yang luar biasa, setiap tahunnya kelompok ini melakukan khalwat selama empat puluh hari lamanya. Kelompok yang kedua ini, berawal dari kedatangan Syaikh Yusuf Hamadzan (1048-1140) pada abab kesebelas yang membimbing masyarakat di Ghujdawan, sebuah desa kecil empat puluh lima kilometer jaraknya dari Bukhara, dan diantara sekian banyak murid-muridnya, Syaikh Abdul Khaliq Al Ghujdawani lah yang paling menonjol. Lalu Nabiyullah Khidir a.s., juga berkenan membimbing beliau dengan kaifiat-kaifiat dzikir yang khusus dan hanya diberikan kepadanya. Bermakzab Imam Malik, dan ibunya adalah seorang putri mahkota dari seorang Raja Seljuk Anatolia. Delapan prinsip Naqsyabandi adalah karya beliau yang momental.

Setelah tiga puluh menit perjalanan dari Bukhara, sampailah disuatu jalan panjang yang berusia lebih dari dua ribu tahun ‘the great silk road’ atau jalur sutra dunia, mereka menyebutnya, tampak dikanan dan kiri pohon buah anggur, apricot, hurma (bukan kurma, sejenis kesemek) dan kapas, alamnya datar dan berdebu. Kita masih ingat, tatkala sutera menjadi alat tukar dan mempunyai nilai yang strategis dibanding emas. Dari Turki dan Persia mereka membawa batu-batuan berharga yang ditukar dengan sutera China, seekor kuda dihargai dengan sepuluh meter sutera, perdagangan dengan cara barter ini melalui Bukhara, Samarkand dan Tashkent, karena itulah jalur ini mereka sebut the great silk road.

Pagi itu, langit sungguh cemerlang, lembaran biru menghampar dari ujung timur sampai ke ujung barat, bila langit ini bersambung dengan lautan akan terlihat seperti penjara bagi mahkluk yang tak kenal membalas budi, dibelakangnya ada neraka jahanam yang hingar bingar menanti kekasih mereka, disisi lain ada tempat yang indahnya tak bertara, juga sedang duka menanti makhluk yang mabuk cinta kepada Tuhannya. Akan tetapi sang Syaikh tidak mempedulikan itu semua, hiasan-hiasan alam semesta itu tidak menggodanya untuk berpaling menuju makam dari seseorang yang mengharumkan agama Islam dan hidup bersama-sama Tuhannya. Tampak dari kejauhan pancaran keagungan cahaya kewalian, kemegahan rubat dan makam yang elok, warna warni bunga mawar yang sedang merekah menambah indahnya suasana, seolah menyampaikan penyambutan dan penghormatan kepada Syaikhuna, bentuk makam dan bangunan dipenuhi dengan ornamen-ornamen dan kaligrafi ayat-ayat suci Al Qur’an yang mempesonakan, burung gagak hitam pun enggan terbang dan hanya bisa terpana menyaksikan cahaya ke-agung-an dan ketinggian kedudukan sang Wali Qutub, Hadrat Syaikh Abdul Khaliq Al-Gjuhdawani. Inilah desa Ghujdawan yang kecil tapi melahirkan seorang putra yang besar, Sultan para kwaja, yang telah melukis dunia dengan keindahan tutur kata dan perilakunya. Udara yang dingin pun tidak terasa lagi, bahkan diri ini pun lenyap dihadapannya. Terdengar sekelompak orang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an : 'Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak, Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. (QS 78:36-37)

Tak kuasa menahan gairah kerinduan, Syaikhuna bersimpuh dihadapan makam Hadrat Syaikh Abdul Khaliq Al Ghujdawani, alam pun mendadak berhenti, sekelompok orang tadi menjadi gagu, burung-burung gagak menjadi putih bulunya, yang ada hanyalah ‘pertemuan’ dan ‘perjamuan’. Doa pun meluncur dari mulut suci itu, para murid tak bisa menahan gejolak hatinya, bagai air yang mendidih terbakar cinta seorang Syaikh. Tak pernah dirasakan sebelumnya hujan air mata sehangat disana, bunga mawar pun layu menyaksikan dan merasakan kegalauan dan kerinduan yang mendalam yang dibawa-bawa oleh Syaikhuna beserta murid-muridnya, suasana hati mendadak berganti warna, berubah bak bayi yang kehausan, lalu menemukan puting susu ibundanya.

Setelah selesai upacara penghormatan dan perjamuan ini, M’atsuura berkata dengan lantang : ‘Aku lihat Hoja Achmad berbicara dengan Hadrat Syaikh.’ Mendengar ini, Syaikh hanya sedikit tersenyum tanpa berkomentar sedikitpun, lalu berbisik kepada seorang muridnya ‘itulah keutamaan seseorang yang memasang rasa ta’zim, tirai-tirai akan terbuka dan secara jelas ia dapat melihat sebuah batu hitam di kegelapan malam.’ Kemudian Syaikhuna di ikuti oleh murid-muridnya berjalan memasuki madrasah dan rubat. Bias ketangguhan riyadhah dan mujahadah para salik yang melakukan khalwat di rubat ini pun masih bisa dirasakan, sambil meneteskan air mata Syaikhuna berkata : ‘Inilah jejak-jejak para salik terbaik dan pembimbing terhebat yang melakukan khalwat di rubat yang indah ini, semoga Allah memlimpahkannya pula kepada kita, keadaan ketinggian ruhaninya dan rubat yang megah.’ Amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.

Delapan prinsip Tarekat Naqsyabandiyah karya Hadrat Syaikh Abdul Khaliq Al Gjuhdawani,qs. :

Yang pertama adalah hosh dar dam, hosh artinya pikiran dan dam artinya nafas, yang maksudnya adalah isilah nafas dengan selalu menyebut nama-Nya, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Barang siapa bernafas lalu tidak disertai dengan dzikir, maka ia akan menghirup kesulitan-kesulitan kehidupan. Ucapkan dalam hati ‘Allah’ tatkala mengeluarkan nafas dan ‘Hu’ tatkala menarik nafas.’

Yang kedua adalah nazhar barqadam, atau ‘perhatikan langkahmu’, disaat berjalan salik diwajibkan memandang kebawah, dimanapun kakinya berada disitulah pandangannya tertuju, sekali-kali tidak diperkenankan membelanjakan pandangannya kekanan dan kekiri, depan dan belakang, karena sesuatu yang dilihat akan segera mewarnai suasana hati, dan gangguan ini akan semakin meluas manakala pikiran terus menciptakan imaginasi-imaginasi, hal ini akan menutup cahaya ketuhanan, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Hakikat nazhar barqadam adalah merasa rendah diri karena diawasi terus menerus oleh Allah SWT oleh sebab itu secara lahiriyah seorang salik diwajibkan untuk mengarahkan pandangannya ke jempol kakinya.’.

Yang ketiga adalah safar darwathon, adalah perjalanan atau hijrah dari kehidupan biasa masuk kedalam kehidupan kesucian, meninggalkan hal-hal yang subhat, tidak berlebihan menikmati hal yang halal, sedikit makan, sedikit tidur dan menjaga inderawinya. Dapat pula diartikan secara lahiriyah, yaitu pergi dari suatu tempat ketempat lain yang bertujuan untuk mendapatkan manfaat batin, seperti yang sedang dilakukan oleh Syaikhuna dan murid-muridnya ini.

Yang ke empat adalah khalwat dar anjuman, merasa sendiri ditengah keramaian, atau hatinya selalu bersama-sama dengan Allah SWT walaupun jasadnya berada ditengah-tengah orang banyak. Keadaan ini tidak mungkin bisa dicapai tanpa melalui latihan yang keras, diawali dengan banyak menyendiri lalu melakukan dzikir dan kontemplasi, atau berkhalwat selama tiga, lima, sepuluh, dua puluh dan empat puluh hari. Untuk melatih ini Syaikhuna mengajarkan teknik dzikir : ‘Dikerjakan di tengah hutan tanpa ada orang lain atau di ruangan khusus, sikap berdiri menghadap kiblat, lemaskan dan matikan badan, lidah dilipat kelangit-langit lalu tutup kedua telinga dengan jari telunjuk, konsentrasikan kepada bunyi dengungan yang muncul dan isi dengan dzikir lathif … Allah … Allah … Allah, kerjakan terus sampai muncul adanya gerakan-gerakan yang indah.’

Yang kelima adalah yad kard, yad artinya mengingat (dzikir) dan kard adalah mengerjakan dzikir, jadi maksudnya adalah dzikir yang dilakukan secara terus menerus, yang diawali dengan dzikir nafi istbat (laa Ilaaha Illallaah) dengan lidahnya, yang kemudian bersama-sama dengan hatinya. Syaikhuna mengajarkan kepada murid-muridnya cara melakukan dzikir ini : “‘Laa ilaaha’ artinya ‘dinafikan’ (ditiadakan) yang lain, ‘illa Allah’ artinya ‘diisbatkan’ (dikukuhkan) ke dalam Qalbu, hanya Allah saja yang wajib disembah. Pada saat itulah Allah teresakan seesa-esanya, lupakan dulu anak, istri, harta benda yang kita cintai, perniagaan yang kita bangga-banggakan, termasuk diri kita, atau apa saja yang menjadikan kemusyrikan, yang mengotori Qalbu.”

Saat menyebut, ‘Laa’ yang berarti ‘tidak,’ bayangkan berupa cahaya berwarna keemasan, ditarik dari bawah pusar tiga jari, karena di situlah sumber enerji, enam harakat banyaknya sampai ke ubun-ubun kepala. Kemudian menyebut ‘illaaha,’ diturunkan ke pundak sebelah kanan dua harakat banyaknya. Lalu menyebut ‘illa Allah,’ diturunkan dari pundak sebelah kanan ke Latifatul Qalbi, tempatnya dua jari dibawah susu kiri, agak kekanan sedikit, dua harakat lamanya. Di situlah bercampur, tempat kerajaan syaithan, tempat keburukan, tempat kebahagiaan, tempat kebodohan, kesombongan indriawi, takabur dan segala macam penyakit hati. Saat itulah terhapus segala macam rasa gundah yang ada di dalam hati, kesusahan-kesusahan, keluhan-keluhan, sirna di saat itu, dengan mengatakan yang sebenar-benarnya Laa illaaha illa Allah.

Lalu ketika dzikirnya bertambah cepat, ‘Laa illaaha illa Allah...Laa illaaha illa Allah...Laa illaaha illa Allah,’ maka lupakan yang lain kalau ingin membersihkan tauhid, kalau ingin mengerjakan amal saleh, dan kalau ingin menjauhi kemusyrikan. Untuk mencapai Liqa Allah, lupakan semua yang lain. Yaa Allah aku sedang terpisah dengan yang lain, aku sedang berhadapan dengan Engkau saja.”

Yang ke enam adalah baz gasht, atau kembali kepada Allah. Bila pada saat melakukan aktivitas dzikir ismudzat (Allah … Allah … Allah) lalu pikirannya menerawang ke yang lain, kemudian datang kesadaran akan kelalaian ini, maka segera bacalah doa munajat ‘Illaahii anta maksuudi waridhooka matluubi a’tinii mahabbatakaa wa ma’rifatakaa yaa Arhamar yaa Rohimiin’ . Setelah itu berdzikir kembali seperti sebelumnya. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengajarkan kepada murid-muridnya metoda dzikir baz gasht ini : ‘Pergunakan tasbih yang berjumlah 99, lalu mata dipejamkan, lidah dilipat keatas, jasad dimatikan, hadirkan rasa senang selalu bersama-sama dengan Allah SWT, lalu lakukan dzikir lathif kedalam latifatul qolbu (Allah … Allah … Allah), setiap hitungan yang ke seratus bacalah doa munajat ‘Illaahii anta maksuudi waridhooka matluubi a’tinii mahabbatakaa wa ma’rifatakaa yaa Arhamar yaa Rohimiin’ 3X. Ulangi lagi dari awal dan lakukan berulang-ulang.’

Yang ketujuh adalah nakahdasyt, atau mempunyai perhatian yang terus menerus terhadap gerak gerik qalbu dari selain Allah. Seorang syaikh berkata: ‘Barang siapa dapat menjaga hatinya dari selain Allah selama lima belas menit saja, sudah merupakan pendakian yang besar.’ Dan seorang Syaikh agung berkata : ‘Aku menjaga hatiku selama sepuluh hari dan kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun.’

Yang kedelapan adalah yad dasyt, mengosongkan hati dari yang lain selain Allah SWT. Syaikhuna mengajarkan teknik yang tinggi untuk mengosongkan hati dari yang lain, dengan melakukan latihan yang sungguh-sungguh, terhadap kaifiat dzikir ini : ‘Kerjakan dzikir Jahr dan dzikir lathaif secara bersamaan, yaitu pada saat lidah mengucap Laa Ilaaha Illallaah, bersamaan dengan itu hati menyebut Allah .. Allah .. Allah, kerjakan ini sebanyak-banyaknya. Lalu setelah itu, meningkat dengan melipat lidah kelangit-langit, tetap mempertahankan gerakan dzikir jahr, akan tetapi yang menyebut Laa Ilaaha Illallaah adalah lidah hati, bersamaan dengan itu, lidah hati yang lain menyebut Allah … Allah … Allah dilakukan sebanyak-banyaknya sampai tenggelam dihadirat-Nya.

Disamping delapan prisip naqsyabandi ini, karya beliau yang agung dan masih dikerjakan oleh pengikut tarekat ini adalah Dzikir Khatm Khawajkan, dari segi bahasa memberikan pengertian Dzikir penutup para Kwaja (guru). Dan mempunyai keutamaan bagi yang membacanya, yaitu akan dipenuhi segala kebutuhannya, diperoleh apa yang diinginkannya, dicegah dari berbagai bencana, dinaikan kedudukannya beberapa derajat, serta muncul berbagai tajalli. Pekerjaan dzikir ini merupakan rukun bagi tarekat naqsyabandiyah, disamping dzikir ism zat (Allah) dan nafi isbat (Laa Ilaaha Illallaah). Dalam membaca dzikir ini ada beberapa etika yang harus dipenuhi terlebih dahulu, salah satunya adalah menutup pintu, ini dapat memberikan pengertian menutup pintu lahiriyah, yaitu pintu ruang dzikir dan menutup pintu batiniyah, yaitu menutup hati dari yang lain kecuali Allah selama membacanya. Lalu dikemudian hari Syaikh Ahmad Al Faruqi As Sirhindi Al Imam Rabbani (semoga Allah mensucikan ruhnya) menyusun juga khatm khawjakan dalam versi yang lain. Oleh karenanya pengikut tarekat naqsyabandiyah dapat melakukan satu diantara keduanya.

Khatm Khawajkan :
إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ شَيْءٌ للهِ لَهُمْ – الفاتحة

ثُمَّ إِلىَ أَرْوَاحِ آبَائِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ وَإِلَى اْلمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَاْلكَرُّوْبِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَاْلصَّالِحِيْنَ وَآلِ كُلٍّ وَأَصْحَابِ كُلٍّ وَاِلَى أَرْوَاحِ أَبِيْنَا آدَمَ وَأُمِّنَا حَوَاءَ وَمَا تَنَاسَلَ بَيْنَهُمَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ شَيْءٌ للهِ لَهُمْ – الفاتحة

ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ سَادَاتِنَا وَموَالِيْنَا وَأَئِمَّتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَّعُمَرَ وَعٌثْمَانَ وَعَلِيٍّ ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَاْلقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ شَيْءٌ للهِ لَهُمْ – الفاتحة

ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ اْلأَئمَّةِ اْلمُجْتَهِدِيْنَ وَمُقَلِّدِيْهِمْ فِي الدِّيْنِ وَاِلَى أَرْوَاحِ اْلعُلَمَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَاْلقُرَّاءِ اْلمُخْلِصِيْنَ وَأَئِمَّةِ اْلحَدِيْثِ وَاْلمُفَسِّرِيْنَ وَسَاِئرِ سَادَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ اْلمُحَقِّقِيْنَ وَإِلَى أَرْوَاحِ كُلِّ وَلِيٍّ وَوَلِيَّةٍ وَمُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ مِنْ مَشَارِقِ اْلأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا وَمِنْ يَمِيْنِهَا إِلَى شِمَالِهَا شَيْءٌ للهِ لَهُمْ – الفاتحة

ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ مَشَايِخِ الْقاَدِرِيّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ وَجَمِيْعِ أَهْلِ الطُّرُقِ وَخُصُوْصًا لِسَيِّدِناَ وَمَوْلاَناَ سُلْطَانِ اْلأَوْلِيَاءِ سَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقاَدِرِ الْجَيْلاَنِيِّ الْبَغْدَادِيِّ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ الْعَزِيْزَ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ أَبِي الْقاَسِمِ الْجُنَيْدِيِّ الْبَغْدَادِيِّ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ السِّرِّي السَّقَطِي وَسَيِّدِ الشَّيْخِ مَعْرُوْف اْلكَرْخِي وَسَيِّدِ الشَّيْخِ حَبِيْب اْلعَجَمِي وَسَيِّدِ الشَّيْخِ حَسَن اْلبَصْرِي وَسَيِّدِ الشَّيْخِ جَعْفَر الصَّادِق وَسَيِّدِ الشَّيْخِ أَبِي يَزِيْد اْلبُسْطَامِي وَسَيِّدِ الشَّيْخِ يُوْسُفْ الْهَمَدَانِي وَسَيِّدِ الشَّيْخِ بَهَاءَ الدِّيْن شَاْه النَّقْشَبَنْدِي وَحَضْرَةِ اْلأِمَامِ الرَّبَّانِي وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَأَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ وَاْلآخِذِيْنَ عَنْهُمْ شَيْءٌ للهِ لَهُمْ – الفاتحة

ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ واَلِدِيْنَا وَوَالِدِيْكُمْ وَمَشَايَخِنَا وَمَشَايِخِكُمْ وَأَمْوَاتِنَا وَأَمْوَاتِكُمْ وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا وَلِمَنْ أَوْصَانَا وَاسْتَوْصَانَا وَقَلَّدَنَا بِدُعَاءِ اْلخَيْرِ شَيْءٌ للهِ لَهُمْ - الفاتحة

ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا وَمِنْ يَمِيْنِهَا إِلَى شِمَالِهَا وَمِنْ قَافٍ إِلَى قَافٍ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ شَيْءٌ للهِ لَهُمْ - الفاتحة
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ 100
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ 79
قُلْ هَوَ اللهُ أَحَدٌ 1000
اَللَّهُمَّ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ 100
اَللَّهُمَّ يَا كَافِي الْمُهِمَّاتِ 100
اَللَّهُمَّ يَا رَافِعَ الدَّرَجَاتِ 100
اَللَّهُمَّ يَا دَافِعَ اْلبَلِيَّاتِ 100
اَللَّهُمَّ يَا مُحِلَّ اْلمُشْكِلاَتِ 100
اَللَّهُمَّ يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ 100
اَللَّهُمَّ يَا شَافِيَ اْلأَمْرَاضِ 100
اَللَّهُمَّ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 100
صَلَوَة أُمِّيَّة 100
الفَاتِحَة لِحَضَرَةِ أِمَامِ خَواَجَكَانَ 1
الفَاتِحَة لسُلْطَانِ اْلأَوْلِيَاءِ سَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقاَدِرِ الْجَيْلاَنِيِّ 2
صَلَوة أُمِّيَّة 100
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ 1000
الفاتحة 1
صَلَوة أُمِّيَّة 100
الفاتحة لِحَضْرَةِ اْلأِمَاِم الرَّبَّانِي 1
صَلَوة أُمِّيَّة 100
الدُّعَاءُ
الفاتحة عَلَى هَذِهِ النِّيَّةِ 1
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ اْلعّلِيِّ اْلعَظِيْمِ 500
صلوة أمية 100
اَللَّهُمَّ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
يَا لََطِيْفُ 16641

اَللَّهُمَّ يَا لََطِيْفُ يَا لََطِيْفُ يَا لََطِيْفُ يَا مَنْ وَسِعَ لُطْفُهِ أَهْلَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ نَسْأَلُكَ بِخَفِّي خَفِيِّ لُطْفِكَ اْلخَفِيِّ أَنْ تُخْفِيَنَا فِي ِخَفِّي خَفِيِّ لُطْفِكَ اْلخَفِيِّ اِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ اْلحَقُّ اللهُ لَطِيْفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ اْلعَزِيْزُ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ يَا مُعِيْنُ بِقُوَّتِكَ وَعِزَّتِكَ يَا مَتِيْنُ أَنْ تَكُوْنَ لَنَا عَوْنًا وَمُعِيْنًا فِي جَمِيْعِ اْلأَقْوَالِ وَاْلأَحْوَالِ وَاْلأَفْعَالِ وَجَمِيْعِ مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ فِعْلِ الْخَيْرَاتِ وَأَنْ تَدْفَعَ عَنَّا كُلَّ شَرٍّ وَنِقْمِةٍ وَمِحْنَةٍ قَدِ اْستَحَقْقْنَاهَا مِنْ غَفْلَتِنَا وَذُنُوْبِنَا فَإِنَّكَ أَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَحِيْمُ وَقَدْ قُلْتَ وَقَوْلُكَ اْلحَقُّ : وَيَعْفُوْ عَنْ كَثِيْرٍ، اللّهُمَّ بِحَقِّ مَنْ لَطَفْتَ بِهِ وَوَجَّهْتَهُ عِنْدَكَ وَجَعَلْتَ اللُّطْفَ اْلخَفِيَّ تَابِعًا لَهُ حَيْثُ تُوَجِّهُ أَسْأَلُكَ أَنْ تُوَجِّهَنِي عِنْدَكَ وَأَنْ تُخْفِيَنِي بِخَفِيِّ لُطْفِكَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ آمِيْنَ الفاتحة

Hadrat Syaikh Abdul Kaliq Al Gjuhdawani wafat pada tanggal dua belas Rabi ul-Awwal 575 H (1179), dari sekian banyak muridnya, empat orang khirkoh sebagai Syaikh, dan penerus silsilahnya turun kepada Syaikh Arif Ar-Riwakri.

DUNIA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS 3 : 14)

Syaikh Arif Ar-Riwakri (semoga Allah Mensucikan ruhnya) berkata : ‘Terlalu banyak angan-angan terhadap dunia ini, menutup jalan menuju Tuhan.’

Matahari mulai menampakkan keperkasaannya, ditelannya udara dingin dengan sengatan panasnya. Tatkala angin bertiup, mulailah suasana menjadi aneh, matahari yang menyengat itu tiba-tiba dapat berganti dengan udara dingin yang menusuk, bolak-balik laksana suana hati ini. Matahari yang gagah sendirian itu, membuat daerah sekitar rubat menjadi terang namun menyilaukan mata, mengharuskan Syaikhuna dan murid-muridnya mengenakan kacamata pelindung. Enam kilometer dari Bukhara atau satu kilometer dari Ghujduwan, tibalah di rubat Syaikh Arif Ar-Riwakri, dikelilingi oleh perumahan penduduk yang cukup padat, kesederhanaan kehidupannya tampak jelas, nyaris tidak ada kendaraan bermotor roda dua atau roda empat yang diparkir didepan rumah-rumah. Kesederhanaan ini, dapat dirasakan oleh murid-murid Syaikhuna, membias kedalam dada yang masih hancur berkeping-keping berpisah dengan sultannya para kwaja. Kebun mawarnya tidak terlalu besar, namun keindahan bunganya menakjubkan, warna dan lekukan kelopaknya sangat indah. Bunga yang tercipta langsung dari Nuur Muhammad ini betapa hebatnya, harumnya menghanyutkan jiwa-jiwa yang terikat dunia, warnanya menyejukkan kedua bola mata dan bentuknya lebih indah dari bangunan Taj Mahl di India.

Dekap, dekaplah sahabat !, yang erat !
Ini bukan mawar biasa, tetapi keringat sang Musthafa
Alam semesta pun merunduk karenanya
Namanya abadi, bersanding dengan Tuhan-Nya

Tidak perlu menunggu lama, Imam Mas’jid mendatangi Syaikhuna, memberi salam dan langsung berkata ‘Ahli Naqsyabandi’ sambil memeluknya. Dengan rasa haru, murid-murid pun berpelukan dengannya. Wajah Sang Imam sungguh cemerlang, seperti lugunya seorang bayi, garis-garis wajahnya menggambarkan ketangguhannya dalam beribadah senyumnya penuh arti persahabatan, langkahnya tenang, pandangannya menusuk qolbu. Beliau langsung mengantarkan menuju makam tuan Syaikh Arif Ar Riwakri, sambil menyampaikan karomah-karomah dan sekilas sejarah wali agung yang berbaring disini, dimulai dari masa keberbaktiannya kepada gurunya, Hadrat Syaikh Abdul Khaliq Al Ghujdawani dalam kurun waktu yang lama, sampai mendapatkan kunci rahasia ilmu langit yang sangat tinggi. Salik yang sezaman dengannya sangat menghomatinya, kedermawanannya tak ada bandingannya saat itu. Beliau orang yang tinggi ilmunya akan tetapi rendah diri, santun dan berkasih sayang sesama makhluk. Sahabat-sahabat terdekatnya yang juga mendapatkan khirkoh adalah Syaikh Ahmad As-Shiddiq, Syaikh Kabir Al-Awliya dan Syaikh Sulaiman Al-Kirmani. Beberapa wejangan Syaikh Arif Ar-Riwakri mempunyai kesamaan makna dengan pengajian Syaikhuna terhahulu, diantaranya : ‘Sembahlah Tuhan sampai Dia menjadi gurumu, dan jadikan dzikrul maut menjadi sahabatmu. Siapa saja yang meminta surgawi tanpa adanya kebaikan yang telah dilakukan akan ditulis untuknya dosa diatas dosa.
Salik yang berharap menjaga agamanya, wajib menghindari kebersamaan dengan orang banyak.’

Awan mulai bergerak membentuk payung, menutupi kekasih Tuhan dari sengatan teriknya matahari. Syaikhuna dan murid-muridnya duduk secara tertib dihadapan makam tuan syaikh. Semut-semut yang tadinya berjalan mondar-mandir menjadi kebingungan, mereka keheranan, mengapa cicin Sulaiman berada pada Syaikh suci itu, gumannya, lalu terdiam, langit masih melongok menyaksikan anak cucu Adam yang saling berbagi kerinduan. Angin masih bertiup sepoi-sepoi yang membawa udara panas dan kadang kala berganti dingin. Tombak tajam menghujam kedalam dada murid-murid, tatkala mendengar alunan ayat kursi dan suratul Fatihah dari Syaikhuna. Sang Imam memandang penuh haru, sebuah tasbih dihadiahkannya teruntuk Syaikhuna. Dan Syaikh membalasnya dengan sesuatu yang paling tajam diatas bumi ini, yaitu doa nuur nubuwah.

Syaikh Arif Ar-Riwakri lahir dan wafat di desa Riwakar ini, semoga Allah mensucikan ruhnya, amiin Yaa Allah Yaa Rabbal alamiin.

Syaikhuna berkata bahwa : ‘Dunia berada ditelapak tangan para sufi. Dan dunia adalah ladang bagi akhirat.’

Nyonya tua yang berkeriput, atau disebut nyonya dunia begitulah perumpamaan untuk dunia yang kita huni ini, Rasulullah saw juga bersabda bahwa dunia bagai tulang belulang yang berada di keranjang sampah. Dunia seperti barang-barang yang dibuang dari kapal yang terapung-apung, seperti samudera yang terus bergerak yang didandani dengan cantik. Syaikh Jalaluddin Rumi,r,a., mengatakan bahwa : ‘Pelacur tua dunia mencoba memikat anak muda, dan untuk menyembunyikan keriput dan wajahnya yang mengerikan, ia merobek-robek halaman-halaman Al Qur’an yang memberikan penerangan yang indah dan merekatkannya ke pipinya. Perempuan sundal yang mengerikan itu harus dihindari dengan teguh, karena ia melahap anaknya sendiri’. Banyak perumpamaan yang mengenaskan telah dibuat oleh para masyaikh terdahulu berkenaan dengan dunia ini. Toh, kebanyakan manusia tidak perduli dengan peringatan-peringatan itu malah berlomba untuk menikmati perhiasan-perhiasannya, yang gelangnya adalah kesenangan dan kalungnya adalah kekuasaan. Sifat dunia bagai seekor laba-laba yang memasang jaring-jaring yang indah untuk memperdaya dan menangkap mangsanya. Jaringnya terlihat kokoh dimata manusia namun sesungguhnya rapuh, nyaris tidak ada yang dapat melepaskan diri dari jeratannya, dan manusia adalah mangsa yang mudah, karena unsur-unsur yang berada didalam diri sama dengan unsur-unsur yang berada di dunia ini, yaitu tanah, air, angin dan api, dan sifat dunia adalah kegelapan sama seperti sifat jiwa, oleh sebab itu, manusia mudah hanyut didalamnya. Permukaan dunia memang penuh dengan ketidak pedulian dan kesenangan, padahal dibelakangnya api jahanam sedang menyala-nyala, yang setetes apinya saja dapat menenggelamkan bumi dan seisinya dan sebaliknya barang siapa tumbuh kesadarannya bahwa dunia ini merupakan ladang untuk menanam kesucian dan ketahuidan, maka dibelakangnya keindahan surgawi yang rindu terhadap kehadirannya.

Seorang murid mengeluh, istrinya sering menghabiskan waktu senggangnya untuk luluran dan spa, sering bertemu dengan teman-teman lamanya untuk bernostalgia dan reuni sambil menikmati jamuan makan, peralatan kecantikannya yang mahal-mahal harganya, malu memakai jamu atau buatan dalam negri, harus produk top yang dibuat oleh tangan-tangan kotor, parfumnya harus bintang lima, dan berpakaian yang serba indah tatkala keluar rumah, sedangkan bila dirumah cukup memakai pakaian kebesarannya ,baju daster. Ini contoh, sang istri sudah terkena jerat sarang laba-laba tadi, tunggu saja sebentar, dunia akan habis melahapnya. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Pakailah perangkat peribadatan dengan kualitas yang terbaik walaupun harus dibeli dengan harga yang mahal.’ Sajadah, pakaian, sorban, tasbih dan wangian adalah perangkat peribadatan secara lahiriyah, Syaikh menganjurkan agar memilih bahan-bahan yang berkualitas terbaik, karena perhiasan ini inginlah dipersembahkan teruntuk Allah semata. Nah, bila dunia sudah melahap seorang manusia, hatinya akan kosong dari Tuhan kecuali kemegahan dan hingar bingar dunia, dia menjadi budak dunia, kesibukannya hanya merawat badannya untuk menghibur hawa nafsunya, agar terlihat cantik dan indah dihadapan hewan berkaki empat yang berdiri dengan kaki belakangnya (manusia). Jelas, tindakan ini berlawanan dengan kehidupan keruhanian yang sedang dijalani sang suami (murid) tadi, karena prinsip kehidupan keruhanian adalah mujahadah atau berpantang dari kesenangan-kesenangan. Jangankan yang diharamkan, yang halal pun diatur sedemikian rupa agar tidak berlebihan, seperti mengurangi porsi makan, tidur dan berbicara serta menjaga pandangan, pendengaran dan cakap-cakap hati. Syaikhuna pernah berkata : ‘Jangan nyufi sendirian, kita masih punya keluarga yang berbeda keadaannya’. Jangan disalah artikan ucapan ini, lalu membiarkan sang istri dan anak-anak menikmati kesenangan duniawi atau bahkan memberikan dukungan. Kesederhanaan adalah salah satu cabang dalam bertarekat yang rantingnya adalah berhemat (tidak boros), dan berhemat bukan berarti kikir, selalu ingatlah bahwa suatu ketika kita semua akan ditanya oleh Allah SWT : ‘Dari mana hartamu didapat dan untuk apa ?’ Jadi memang tepat bila sang Hujatul Imam Al Ghazali memberikan perumpamaan bahwa manusia itu bagai seorang anak, yang ayahnya adalah roh dan ibunya adalah jiwa. Dan jiwa itu selalu mengajak kepada kejahatan, kecuali jiwa yang sudah mendapatkan rahmat dari Tuhannya.

Rasulullah,saw., bersabda : ‘Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.’ Hadis ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dipenjara akan dengan sekuat tenaga untuk dapat segera keluar dari penjara dunia ini, sebaliknya bagi orang-orang yang sedang menikmati surga dunia enggan untuk meninggalkannya.

Bibir manusia banyak yang mengucap bahwa, dunia ini fana, namun tidak menyadari bahwa dirinya juga fana. Hatinya tidak mengerti makna sesungguhnya, jika dunia ini fana lalu mengapa manusia berbangga tatkala memakai jubah dan perhiasannya ?. Jubah berupa gelar-gelar kesarjanaan dan perhiasan berupa jabatan dalam kenegaraan atau perusahaan. Sesungguhnya, tidaklah jauh-jauh yang dicarinya melainkan hanya harta dan tahta, agar orang lain memuji dan me-nyanjungnya, bahwa dia adalah orang yang dimuliakan Tuhan. Jika kedudukan dan harta sebagai ukuran kemuliaan, maka Fir’aun adalah yang paling mulia diantara umat manusia, akan tetapi tidaklah demikian, seorang Fir’aun terjebak didalam perangkap laba-laba tadi dan mengaku dirinya sebagai tuhan. Untuk itu waspadailah dunia ini, boleh jadi seseorang merasa tidak berada pada perangkapnya, padahal tanpa disadarinya ia telah berada didalam perutnya, yang menjadikan harta dan tahta sebagai tuhannya. Manusia tidak lain hanyalah pembuat permainan dan menamainya, lalu berbangga tatkala menungganginya, seperti anak kecil yang bermain getek (sejenis perahu dari pohong pisang), yang hanya berputar-putar disungai tanpa tentu arah, tak terbesit sedikitpun dalam keinginannya untuk berlayar sampai ke lautan. Ilmu pengetahuan di dunia ini sangat luas, sedangkan umur manusia terbatas, untuk itu ambilah atau pelajarilah pengetahuan yang bermanfaat bagi perjalanan pulang ke akhirat. Seorang Syaikh berkata bahwa ilmu pengetahuan yang bermanfaat di dunia ini adalah pengetahuan dari Tuhan (syariat), tentang Tuhan (tauhid) dan bersama Tuhan (tarekat). Allah SWT berfirman didalam hadis qudsi : ‘Aku adalah harta berharga yang tersembunyi dan Aku ingin diketahui, sehingga Aku menciptakan dunia.’

Tuhan menginginkan manusia mencari harta berharga yang tersembunyi itu, bukannya harta perhiasan duniwai, kehidupan ini telihat seperti pisau yang bermata dua, walaupun keduanya sama-sama memabukkan, namun berbeda maknanya, yang pertama menjadikan manusia budak sahaya yang patuh kepada Tuhannya dan yang kedua menjadikan manusia menjadi tuhan. Harta berharga itu berada pada reruntuhan, bukan berada di istana raja.

Hadrat Syaikh Muhammad Bahaudin Syah Naqsyaband (semoga Allah mensucikan ruhnya), mempunyai kewaspadaan yang tinggi terhadap dunia, khususnya dalam hal yang berkenaan dengan kualitas makanan dan tata cara makannya. Guna menghindari adanya unsur-unsur haram ataupun bias-bias kegelapan akibat dari keadaan jiwa seseorang, maka dimulai dari proses menanam, memanen, menggiling, membuat adonan, menanak dan memanggangnya dilakukannya sendiri. Sehingga banyak ulama dan para salik berharap barokah-barokahnya, membuat jalan yang melintas rumahnya, agar bisa makan bersama di mejanya dan mendapatkan berkah dari makan bersamanya. Juga dalam hal penghematan, di musim dingin, hanya ada selembar karpet tua di lantai rumahnya dan ini pun tidak memberi perlindungan dari udara dingin yang menusuk. Demikian juga bila musim panas tiba, beliau hanya meletakkan tikar yang sangat tipis di lantai rumahnya. Kencintaannya kepada orang miskin tampak begitu nyata, para pengikutnya diperintahkan untuk mencari nafkah dengan cara yang halal, lalu membagikan uangnya kepada fakir miskin, mereka sering diundang untuk makan bersama dari makanan yang dimasaknya sendiri, dan melayaninya dengan penuh kasih sayang, serta mendorong mereka untuk tetap ingat kepada Allah ketika sedang makan. Hadrat Syaikh Bahaudin Syah Naqsyaband mengatakan : ‘Salah satu pintu yang paling penting menuju ke Hadirat Allah adalah makan dengan kesadaran. Makanan memberikan kekuatan bagi tubuh, dan makan dengan kesadaran memberikan kesucian bagi tubuh.’

Suatu saat, seorang muridnya telah menyiapkan makanan untuknya. Ketika mereka duduk untuk makan, beliau tidak menyentuh makanannya. Sang murid menjadi terkejut. Hadrat Syaikh berkata : ’Wahai anakku, sejak engkau membuat adonan dan memasaknya sampai engkau menyajikannya, engkau berada dalam keadaan marah, makanan ini bercampur dengan kemarahan itu. Jika kita memakannya, syaithoon akan menemukan jalan untuk masuk melaluinya dan menyebarkan seluruh sifat buruknya ke seluruh tubuh kita.’

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata dengan mengutip hadis Nabi,saw. : ‘Bahwa dunia adalah ladang bagi akhirat.’ Oleh sebab itu, seseorang mempunyai kewajiban menanam pohon kebajikan dan kesucian di ladang dunia ini, kebajikan berupa amal-amal yang berkualias dan kesucian berupa peng-esa-an Allah se-esa-esa-Nya. Menanam sesuatu diladang dunia ini tidak bisa dilakukan oleh orang lain, melainkan haruslah dilakukan oleh dirinya sendiri, pastilah membutuhkan tenaga, pikiran dan harta. Lebih jauh lagi, bahwa makna menanam adalah bersyukur kepada-Nya atas tekanan-tekanan dan kesulitan-kesulitan yang diperoleh di dunia ini dari-Nya, karena tidak ada kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya tanpa melalui rintangan itu. Dan bila seseorang baru mampu bersabar atas tekanan kehidupan ini, maka binatang pun mampu melakukannya. Sebagaimana wahyu kepada salah seorang Nabi-Nya : “Aku menurunkan cobaan kepada hamba-Ku, lalu ia berdoa kepada-Ku. Tetapi Aku menangguhkan doanya dan ia mengeluh kepada-Ku. Maka Aku lalu bertanya, ‘Wahai hamba-Ku, bagaimana Aku mengasihimu, sedangkan engkau membenci dari suatu, yang dengannya, Aku mengasihimu ‘?”

MANUSIA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS 33 : 72)

Wajah-wajah rupawan itu tampak bercahaya, tanpa sedikitpun terlihat kelelahan, anak-anak semakin bergairah dan meluap kegembiraannya, musim anggur sudah hampir berlalu, namun masih dapat ditemukan disetiap pojok desa, buah delima merah sebesar buah kelapa sudah merupakan pemandangan yang biasa, buah apel dengan berbagai ukuran dan warna disajikan didalam ember-ember kecil, buah melon berukuran jabang bayi bertumpuk-tumpuk, berbagai macam buah-buahan sangat melimpah ruah dinegeri ini. Perjalanan menuju desa Anjir Fagna sungguh merupakan pengalaman yang berharga, jaraknya tigakilometer dari Bukhara, disinilah Syaikh Mahmud Al Injir Al Faghnawi dilahirkan. Beliau dikenal dilingkungan kwajagan sebagai yang pertama kali mempraktekkan dzikir Jahr (dzikir yang berbunyi) atau dzikir dhorob, dan ketika beliau ditanya alasannya, “Untuk membangunkan yang tidur,” Jawabnya. Maksudnya adalah, membangunkan hati yang tidur, telinga hati yang tuli dan mata hati yang buta agar mampu kembali kepada fitrahnya sebagai ‘tempat’ bersemayamnya Tuhan semesta alam.

Tiga tahun yang lalu, di rubat yang indah ini, seorang murid merasa tidak enak tatkala Syaikhuna minta dibawakan air untuk berwudhu, saat itu memasuki musim dingin tepatnya dibulan April tahun dua ribu empat. Dicarinya sumber air, semuanya kosong dan mengering, lalu dilihatnya sebuah teko tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hatinya hancur berkeping-keping, khawatir Syaikhnya akan kedinginan berthaharah menggunakan air yang dingin ini. Syaikhuna hanya tersenyum sambil berwudhu dengan sempurna, lalu beliau berkata kepada murid itu : ‘Barokaullah, sekarang giliranmu.’ Diserahkannya teko itu kepada murid yang lain agar dapat membantunya, jantung berdetak semakin keras, pandangan mata tertuju pada ujung teko, air mulai mengucur menyentuh telapak tangannya, seketika mukanya berubah menjadi merah, Subhanallah, (pekik murid tadi) ternyata air itu telah menjadi hangat, dan hangatnya menyebar keseluruh tubuh, lalu bergantian murid yang lain pun berwudhu. Ajaib, air dalam teko yang berukuran kecil itu, tidak habis dipakai berwudhu oleh empat orang. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Air yang dingin itu menjadi hangat, dibakar oleh panasnya cinta seorang Syaikh kepada murid-murid yang berbakti tanpa pamrih, dan air yang tidak habis itu, melambangkan sifat ilmu yang tak akan habis.’

Dimusim yang dingin itu, burung-burung berkicau dengan merdunya, seolah mengucap salam kepada rombongan para ahli dzikir, khususnya kepada Syaikhuna. Sudah merupakan tradisi, bahwa tamu yang datang dengan membawa kecintaan ke rubat ini, akan disambut oleh suara kicauan burung yang mendayu-dayu. Pohon-pohon apricot tertunduk malu bercampur sedih, karena musim panen telah berlalu, tak ada satupun buah yang tersisa untuk tamu-tamu yang istimewa ini. Daun-dedaunnya saling berdekapan, batang dan ranting-ratingnya mulai terkelupas kulitnya, sebagai ungkapan pedihnya duka. Udara yang tipis mendadak berganti menjadi segar, semua dapat merasakan kenyamanannya, nafas kehidupan berupa oksigen ini menjadi satu-satunya persembahan dari pohon-pohon apricot. Pohon anjir yang tumbuhnya merunduk tetapi kokoh masih dapat dijumpai. Syaikh langsung menuju kemakam dan memimpin doa, isim tunggal mengalun dengan gagahnya, kalimat-kalimat kunci perbendaharaan langit dan bumi dengan lirih keluar dari mulut yang suci, tak lupa doa teruntuk kedua orang tua terdengar sedih, semuanya dipersembahkan bagi sang wali agung ini. Dalam keadaan tercekik rindu yang lama, seberkas cahaya singgah di pundak kiri Syaikhuna. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Tarekat Qodiriyah berada dipundak kananku dan tarekat Naqsyabandiyah berada di pundak kiriku, hal ini mengisyaratkan adanya amanah untuk terus melestarikan kedua tarekat ini.’

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Dzikir Jahr atau Dzikir dhorob berfungsi untuk mencerahkan qolbu.’

Syaikh Hafiz ad-Din,ra., berkata : ‘Dzikir Jahr, adalah untuk siapa saja yang mengharapkan keadaan yang kemurnian lidahnya dari berkata bohong dan gibah, serta mencegah berbuat sesuatu yang dilarang untuk dilakukan, dan membersihkan dari kebanggaan diri.’

Manusia tadinya tidak ada, lalu Dia membuatnya ada, dan mau tidak mau harus memikul ‘amanat atau kebaikan yang dipercayakan’ itu, yang berupa kewajiban mengenal dan menyembah-Nya, oleh sebab itu Dia menghinggapkan bermacam keunggulan dibanding makhluk ciptaan lainnya, antara lain naluri dan ruhani. Barang siapa mengikuti nalurinya, ia akan jatuh lebih rendah dari hewan, karena hewan, hanya mempunyai naluri tanpa ruhani dan hanya memikirkan bagaimana dapat bertahan hidup di alam dunia ini, tanpa mempunyai pilihan, sebaliknya bila manusia menggali dan terus mengeksploitasi potensi kualitas-kualitas ruhaninya, lalu mengembangkan dan memurnikannya, maka ia akan terbang melebihi malaikat, karena malaikat, hanya mempunyai ruhani tanpa naluri, makanya dia patuh khususnya dalam penyembahan dan menjalankan perintah-Nya. Jadi manusia adalah makhluk yang lengkap, yang didalamnya bersama-sama ada naluri dan juga ruhani, bak sebuah sayap malaikat yang terbawa dan terikat pada ekor keledai, begitulah Syaikh Jalaluddin Rumi menyebutnya. Hebat memang, hewan di alam dunia dan juga malaikat di alam malakut dalam tindakannya tidak mempunyai pilihan, mereka patuh atas kehendak Tuhan, sedangkan manusia dalam posisi unik ‘mempunyai sejumlah pilihan’, karena berada diantara materi murni yang mengadung unsur-unsur dunia dan ruh murni yang mempunyai Sifat-sifat dan misteri Nama-nama Ilahi.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : ‘Tatkala manusia lahir kedunia ini, ia akan segera terwarnai oleh unsur-unsur alam semesta yang sedang dominan disaat itu, apakah itu amarah yang sedang merajalela, atau hasud yang subur tumbuh disana-sini ataukah fitnah-fitnah yang lain, sehingga sifat-sifat buruk itu melekat padanya.’ Syaikh juga sering memperlihatkan jari jemari tangannya untuk menunjukkan bahwa tentara jiwa rendah itu berbeda-beda kadarnya pada setiap orang, ada yang sifat irinya menonjol namun sifat amarahnya rendah, dan ada yang sifat serakahnya dominan sedangkan sifat kikirnya redah. Oleh sebab itu jiwa rendah adalah substansi atau ada pada setiap orang tanpa terkecuali, dan hal ini memang dicipta oleh-Nya sebagai salah satu penghalang atau penghadang sosok manusia untuk mengenal-Nya. Bahkan sosok manusia terbaik yang pernah Allah SWT ciptakan, Sang Musthafa pun pada usia dini harus dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril,as., untuk mengeluarkan kotoran-kotoran yang melekat didalam dadanya. Demikian Allah SWT ingin menunjukkan bahwa siapapun yang terlahir di alam dunia ini akan terbias oleh sifat-sifat buruk yang dominan pada saat ia dilahirkan dan tanpa adanya pertolongan dari-Nya mustahil manusia dapat melumpuhkannya. Bila sifat dengki yang sedang tidur itu terbangun maka tidak ada sesuatupun dalam diri manusia yang mampu membendungnya, berarti tambah lagi setitik noda mengotori kalbu, keranjang dosa semakin penuh terisi, dan rumah dengki semakin gemuk. Yang berarti akan bertambah pula hijab-hijab baru akan kebenaran, maka tidaklah heran bila doa-doa orang yang hatinya kotor akan terhalangi oleh hijab-hijab ini, dan tidak usah bertanya-tanya lagi, mengapa doa ku belum terkabul jua ? Akan tetapi bagi seseorang mendapatkan rahmat dari Allah SWT, maka ia akan segera menyadari kekeliruannya dengan beristighfar dan memenggalnya dengan menyebut kalimat penghancur keburukan-keburukan, pembersih qolbi ‘Laa Ilaaha Illallaah’ sebanyak sepuluh harokat banyaknya yang di dhorobkan kedalam latifatul qolbi serta malam harinya melakukan banyak sholat tobat..

Dalam kitab mastnawinya hadrat Syaikh Jalaluddin Rumi, ra., menceritakan bahwa seorang Syaikh melihat seekor ular memasuki mulut orang yang sedang tidur di emperan kedai. Beliau mulai memukuli perut orang itu dan begitu terbangun, dipaksanya memakan apel busuk yang bertebaran disitu. Orang itu menjerit kesakitan, ‘Syaikh yang bijak, kenapa engkau bertindak tidak bijak hari ini ? Apa salahku, sehinga engkau memukuliku dan sekarang memaksaku untuk makan apel yang sudah busuk ? Sang Syaikh tidak menjawab, malah memukulnya lebih keras lagi, sambil mejejalkan beberapa buah apel busuk kedalam mulutnya. Sampai orang itu mulai muntah-muntah, dan keluarlah seisi perutnya, yang baik dan yang buruk, dua-duanya keluar, termasuk ular yang tadi masuk melalui mulutnya. ‘Engkau, wahai Syaikh terima kasih, Engkau telah menyelamatkan nyawaku, maafkan aku Syaikh, tetapi kenapa tidak memberitahuku dari tadi?’ Tanya orang itu, Syaikh menjawab : ‘Jika aku beri tahu bahwa diperutmu ada seekor ular, engkau pasti sudah mati karena ketakutan.’ Rasulullah,saw., pernah berkata kepada beberapa orang sahabatnya : ‘Bila aku memberitahu berapa banyak musuh yang berada di dalam dirimu, engkau akan ketakutan. Engkau tidak akan berupaya untuk melawannya. Engkau tidak akan berdoa dan berpuasa.’

Para masyaikh terdahulu pun, membuat rumusan-rumusan tentang penciptaan manusia berbeda-beda, akan tetapi mempunyai kesamaan makna. Khususnya keberadaan ruh dan jiwa. Berikut ini adalah konsep penciptaan manusia menurut tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang kami rangkum dari wejangan Syaikh Al Waasi’ Achmad Syaechudin bin H Aminudin (semoga Allah merahmatinya).

Alam semesta ini dicipta begitu banyak aneka ragam bentuk dan fungsinya, kita dapat melihat ada benda-benda diangkasa, seperti langit, matahari, bulan, bintang, planet-planet dan meteor, lalu banyak benda-benda bertebaran dimuka dan dibawah bumi, kita juga wajib meng-imani adanya alam-alam lain yang ghaib beserta makhluk-makhluknya, yang tidak dapat dilihat dengan mata inderawi. Para ahli filsafat menyebut semua itu adalah makrokosmos. Ciptaan-ciptaan itu, semua diperuntukkan hanya untuk melayani kepentingan satu makhluk ciptaan-Nya yang disebut manusia. Walaupun manusia itu secara phisik kecil namun dia unik diantara semua ciptaan-Nya, dilihat dari puncak gunung, ia sudah tidak nampak, bumi pun juga demikian, nyaris tidak kelihatan bila dilihat dari bulan, dan bulan ditengah-tengah alam semesta pun bagai sebuah titik pada huruf ‘ba’ didalam Al Qur’an. Jadi manusia ini sangat kecil yang berada sekilas diantara masa panjang yang dicipta ini. Akan tetapi betapapun kecilnya manusia, ia adalah mikrokosmos dari makrokosmos. Jadi bayangkan ! makhluk yang kecil ini menjadi pusat perhatian daripada makrokosmos yang begitu luas. Malaikat setiap saat sibuk melayani manusia sesuai dengan tugasnya masing-masing, begitu pula syaithoon dan jin, lalu surga dan neraka yang luasnya tak terbayangkan, tumbuh-tumbuh-an, binatang-binatang ternak, semua diperuntukannya bagi manusia. Ini berarti keseluruhan alam semesta ini berada didalam diri manusia. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Walaupun manusia (mikrokosmos) adalah pusat perhatian daripada makrokosmos, janganlah pernah merasa besar, akan tetapi merendahlah bagai bumi.’

Keistimewaan dan ke unikan manusia ini, dapat kita lihat dalam firman-Nya : 'Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.(QS 95 : 4) 'Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS 96:5)'Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! (QS 2 : 31) 'Di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri, apakah kamu tiada memperhatikan ? Dan dilangit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat ( pula) apa yang dijanjikan kepadamu.’ (QS 51: 20-22)

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengutip sebuah hadits : ‘Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa rabbahu, Barang siapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya.’ Wejangan ini jelas sekali maknanya bahwa, tidaklah mungkin sang Kholiq dapat dikenali, sebelum manusia mengenal dirinya sendiri, seperti seorang Ayaz, pejabat istana Turki, tangan kanan raja dan sahabat dari Sultan Mahmud dari Gazna, mempunyai kebiasaan setiap pagi pergi ke kamar rahasia, membuat pejabat istana yang lain curiga bahwa ia telah menyembunyikan harta benda istimewa. Sultan Mahmud mengutus seseorang untuk menguntit sahabatnya itu, yang dilihat sedang memasuki kamar rahasia, akhirnya, Ayaz, kepergok sedang mendekap sepasang sepatu yang sudah usang dan sebuah mantel yang compang camping. Ditanya alasannya, ia menjawab bahwa benda-benda ini mengingatkannya pada kemiskinan dan kemelaratannya di masa-masa sebelumnya, dan membuatnya merasa bersyukur kembali, atas setiap karunia yang didapatkannya dari sang Sultan. Kemudian Ayaz mengutip sebuah hadits ‘Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa rabbahu,’ dan menjelaskan bahwa dengan mengetahui kemelaratannya sendiri, ia mengakui dengan rasa syukur anugerah abadi Tuhan-nya, dan dengan mengenali batas-batasnya sendiri, ia mengenali rahmat Tuhan yang tak terbatas.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) juga berkata : ‘Bahwa ruh dicipta di alam al khalqi, setelah dilahirkan maka kita hidup di alam al syahadah, maka tubuh kita terdiri dari empat anasir, yaitu bumi, air, api dan udara, begitu pula seluruh alam semesta tercipta dari keempat anasir ini. Jika alam semesta meliputi yang tampak dan yang ghaib, begitu pula manusia, memiliki wujud lahir dan batin.’

Unsur lahir kita dapat berpegang pada Firman Allah SWT : 'Sesungguhnya kami telah mencipkan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.’ (QS 15 : 26)'Dan menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.'(QS 55: 14)

Ayat yang pertama menjelaskan ada campuran unsur tanah, air, dan angin dalam penciptaan-Nya sedangkan ayat yang ke dua menjelaskan ada campuran unsur tanah dan api. Maka dari itu lengkaplah bahwa jasad manusia tercipta dari ke empat unsur tadi.

Unsur batin atau disebut ‘ruh’ lebih dahulu dicipta jauh sebelum unsur lahirnya, dan bila unsur lahir tercipta melalui proses hubungan antara seorang suami dan seorang istri, maka unsur batin diciptakan secara langsung oleh-Nya melalui perintah ‘kun’ atau ‘jadilah’. Alam penciptaan unsur batin ini disebut alam al-amri atau alam perintah. Allah SWT telah menciptakan ruh dan meminta kesaksiannya, agar kelak nanti tatkala ruh telah selesai menjalankan ‘kehidupannya di alam dunia’ dan kembali menghadap-Nya tidak akan memungkiri kesaksian itu. Hal tersebut termaktub didalam firman-Nya : 'Bukahkankah Aku ini Tuhanmu ?’ Mereka menjawab : ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS 7 : 172)

Jawaban ini menunjukkan bahwa ruh di alam al-amri telah mempunyai akal, dan mengenal Allah SWT dengan sebenar-benar mengenalnya, bila tidak, ia tidak akan mampu membuat suatu kesaksian atau pernyataan seperti itu. Juga ada makna tersembunyi didalam ayat tersebut, bahwa Tuhan hanya bisa dikenali dengan ruh yang suci berikut akal yang bebas dari polusi dunia. Ruh adalah mikrokosmos dari manusia, seperti kedudukan manusia terhadap alam semesta ini. Ruh berada dan sekaligus tidak berada pada diri manusia seperti halnya Tuhan akan tetapi ia bukan Tuhan.

Sewaktu jalan pagi di kebun raya Bogor, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Lihatlah banyak kotoran burung dibawah sini, menandakan mereka menjadikan pohon ini tempat tinggalnya.’ Perkataan ini mempunyai makna bahwa untuk menemukan burung dapat dicari dengan mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkannya, begitu pula untuk mengenal Allah SWT dapat melalui jejak-jejak-Nya, yang dapat dikenali melalui sifat-sifat-Nya, dapat dipahami melalui nama-nama-Nya (Asma ul-husna), dan dapat ditunjukkan melalui tindakan-Nya (af’al). Sehingga dalam mengenal-Nya tidak dibutuhkan penglihatan mata, pendengaran telinga, sentuhan telapak tangan dan tidak yang lainnya. Seandainya sifat-sifat-Nya tidak menunjukkan atas-Nya, seandainya nama-nama-Nya tidak menunjuk kepada-Nya dan seandainya tindakan-Nya tidak pula menunjukkan atas-Nya. Maka ibadah makhluk hanya tertuju kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, berarti tidak dimaksudkan kepada-Nya. Melainkan kepada yang disembah dari selain Allah. Karena Allah ingin dikenal dan menghendaki yang demikian, seperti dalam firman-Nya : 'Di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri, apakah kamu tiada memperhatikan ?(QS 51 : 20-21). Dia telah menanamkan pengetahuan Ilahiah-Nya di dalam diri manusia, lalu menutupinya, dan melarangnya untuk menyatakan pengetahuan-Nya sebagai miliknya sendiri. Dan, Dia dapat di ingat (dzikr) di dalam alam semesta ini. Walaupun perumpamaan dibawah ini jauh dari sasarannya, namun menggambar laut laksana lautan itu sendiri. Seperti bercermin, obyek yang tampak dalam cermin adalah sama dengan ‘Realitasnya’, perbedaannya bahwa obyek yang berada pada cermin ditiadakan esensi dzatnya, akan tetapi sifat-sifatnya melekat, karena semua warna dan gerak obyek aslinya akan diikuti oleh obyek yang berada didalam cermin pada saat yang bersamaan. Begitulah kemungkinan hakikat penciptaan manusia di alam amr. Oleh sebab itu sifat-sifat Allah SWT ada pada setiap ruh, bila tidak demikian, bagaimana mungkin dapat menangkap burung yang berada diatas pohon tadi tanpa adanya jejak-jejak yang ditinggalkannya.

Seperti seorang Raja yang menyembunyikan harta berharga sekaligus membuat petanya. Boleh saja orang lain mencari harta berharga yang tersembunyi ini tanpa mendapatkan petanya terlebih dahulu, yang pasti tindakannya akan ‘ngawur’ yang pada gilirannya akan menimbulkan keputus asaan. Dan mustahil harta berharga yang tersembunyi ini dapat ditemukan tanpa melalui peta yang dibuat oleh sang Raja. Seorang Syaikh mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Muhammad saw., sebagai cermin pertama cahaya dan keindahan-Nya, suatu cermin dimana Dia dapat melihat diri-Nya sendiri dengan penuh kecintaan. Oleh sebab itu Nabi Muhammad saw., adalah benar-benar merupakan cermin sempurna keindahan-Nya, tempat perwujudan semua nama dan atribut-Nya, yang melalui keindahannya orang akan memahami Keindahan dan Kesempurnaan-Nya.

Salah satu Asma ul-Husna adalah ‘Nuur’ atau ‘Mahacahaya’ yang tidak mungkin menghasilkan subyek lain selain cahaya. Jadi bahwa kegelapan tidaklah mungkin terpancar dari-Nya tanpa perantara, dan Mahacahaya sebagaimana adanya tetaplah Mahacahaya ketika ia mengimplikasi, sehingga ia tidak mengimplikasikan selain cahaya. Dan Dia tidak berkurang atau bertambah sedikitpun saat mengimplikasi, Dia tetap sebagaimana adanya. Tetapi, Dia tidak memunculkan dua cahaya, karena salah satunya jelas berbeda dengan yang lain, dan hal ini memastikan adanya dualitas pada implikasinya, di mana implikasi yang satu berbeda dengan yang lain.

Jika kita cermati esensi kegelapan, maka tak akan ada cahaya yang dapat dimunculkannya. Oleh sebab itu, yang muncul pertama kali dari esensi-Nya adalah cahaya murni yang tunggal, cahaya yang berkesadaran, cahaya yang mampu mengenal diri dan mengenal Penciptanya, bersifat imaterial, yang disebut ‘Nuur Muhammad’, atau para sufi terkemudian ada yang menyebut ‘Al-nuur Al-Ibda (Cahaya Kreatif),’ atau Al-nuur Al-Aqrab (Cahaya Terdekat),’ atau ‘Al-aql Al-kulli (Akal Universal).’ Ilustrasi ini tidak bermaksud membatasi kekuasaan-Nya, Jika Dia berkehendak menciptakan dua atau tiga cahaya murni sekaligus mudah bagi-Nya. Akan tetapi Dia menghendaki yang demikian, agar sifat cahaya konsisten sebagaimana adanya cahaya. Dan kemudian dari Nuur Muhammad ini, yang ‘berkeringat’ karena terpesona dan takjub, menghasilkan tetesan-tetesan peluh, yang masing-masing tetesnya menjadi sebab-sebab penciptaan-penciptaan selanjutnya. Akan tetapi jangan pernah berpikir bahwa sebab-sebab ini tanpa adanya pemikiran awal, seperti menjahit baju, mustahil ia ada sebelum adanya pola dalam imajinasinya.

Semua hidup dengan Nuur Muhammad
Kecuali api neraka, justru ia akan mati !

Salah satu mu’jizat Nabi Muhammad saw, adalah beliau tidak mempunyai bayangan, yang kita ketahui bahwa bila semua benda terkena cahaya akan menciptakan bayangan, terkecuali cahaya atau bayangan itu sendiri.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengutip hadist-hadist yang berkenaan dengan ‘Nuur Muhammad’ antara lain : ‘Aku telah menjadi nabi, sementara Adam masih berwujud antara air dan lempung.’ Dan ‘Yang pertama-tama diciptakan Allah adalah jiwaku.’ Dan ‘Jika engkau tidak ada, Aku tidak akan menciptakan dunia itu.’

Kehidupan di dunia ini dimulai dengan bersatunya ruh dan jasad, seperti dalam firman-Nya : 'Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan
kedalamnya ruh( ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.’(QS 15 : 29).

Para ulama berbeda pendapat dimana ruh berada pada tubuh, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Bahwa ruh meliput jasad.’ Kita tinggalkan saja perbedaan pendapat para ulama, akan tetapi para masyaikh terdahulu khususnya ahli silsilah kita menyatakan bahwa ruh meliput tubuh dan ‘menetap’ pada lima latifah, latifah adalah sesuatu yang ‘halus atau lembut’ yang berada pada tubuh, yaitu pada latifatul qolbi, ruh, sir khofi dan akhfa. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengutip sebuah hadits : ‘Ada sekerat daging didalam tubuh manusia, jika ia baik niscaya seluruh tubuh akan menjadi baik, jika sekerat daging itu rusak, niscaya seluruh tubuh akan rusak, ketahuilah bahwa sekerat daging itu adalah hati (qolbi).’ Beliau juga berkata bahwa : ‘Latifatul qolbi adalah induk atau ibu dari latifah yang lain.’ Nah, didalam latifatul qolbi ada yang lebih halus yaitu latifatul ruh, dan didalamnya ada yang lebih halus lagi yaitu latifatul sir dan didalamnya ada yang lebih halus lagi yaitu latifatul khofi dan yang terhalus adalah latifatul akhfa. Setelah ruh dan jasad bersatu, munculah yang disebut jiwa dan rahasia. Dan jiwa berada juga pada kelima latifah tadi, sehingga didalam latifah itu bersarang secara bersama-sama sifat-sifat yang mahmudah (kebaikan) dan sifat-sifat yang majmumah (keburukan). Imam Al-Ghazali,r.a., berkata bahwa : ‘Manusia adalah anak yang ayahnya adalah ruh dan ibunya adalah jiwa.’ Dengan adanya jiwa ini menjadikan manusia dapat lebih unggul dari malaikat dan dapat lebih buruk dari pada syaithoon.

Ruh mempunyai penasihat yang disebut akal, sedangkan jiwa mempunyai menteri yang disebut hawa nafsu dan syahwat. Kedua kekuatan ini saling tarik menarik, sifat ruh adalah cahaya (nuur) dan sifat jiwa adalah kegelapan (dzulumaat), atau dalam bahasa awam bahwa ruh selalu memerintah manusia kepada kebaikan dan jiwa memerintah manusia kepada keburukan. Seperti yang termaktub dalam firman-Nya : 'Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ (QS 12: 53).

Proses pemberian perintah dari ruh (ayah) kepada manusia (anak) selalu diketahui oleh jiwa, maklum jiwa adalah permaisuri, disini jiwa selalu memberontak dan memerintahkan hawa nafsu dan syahwat untuk menguasai sang manusia (anak) agar condong berbuat keburukan. Mudahnya bahwa makanan jiwa itu adalah segala macam kesenangan-kesenangan duniawi dan sebaliknya ruh menyenangi kesucian, karena ruh mempunyai tanggung jawab atas kesaksiaannya di alam al-amri. Oleh sebab itu manusia selalu dalam posisi yang sulit, dia terombang ambing diantara dua buah entitas yang kuat, ruh menyeru kepada kebaikan dan jiwa yang selalu memerintahkan kepada kejahatan. Akan tetapi yang perlu disadari bahwa semua ini atas seizin Allah SWT. Seperti dalam firman-Nya : 'Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.’ (QS 91 : 7-8) Dan : 'Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ (QS 4 : 78)

Memang demikian hakikat manusia dicipta, bahwa pemberontakan permausiri (jiwa) terhadap suami (ruh) selalu dimenangkan oleh sang permaisuri (jiwa), karena Allah SWT menghendaki yang demikian, agar ‘kesadaran’ muncul, bahwa tanpa pertolongan dan dukungan dari-Nya, mustahil permaisuri dapat ditaklukan. Ditambah lagi oleh peran syaithoon yang membujuk manusia agar memakai jubah ketuhanan (rubbubiah) sehingga manusia terperangkap didalam kemusyirikan. Nah, harta karun kesadaran ini tersembunyi pada kelima latifah tadi, yang terpendam dalam-dalam dan dijaga sangat ketat oleh tentara-tentara dari hawa nafsu dan syahwat.

Allah SWT berfirman : 'Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.’(QS 10 : 57)

Untuk menggali khazanah harta karun kesadaran inilah dibutuhkan seorang pembimbing yang piawai dan yang sudah mempunyai pengalaman mengalahkan tentara-tentara tadi, orang-orang yang piawai inilah yang kita kenal dengan sebutan ahli silsilah dalam tarekat yang mutabarah, atau kita menyebutnya Mursyid, Syaikh atau Pir, agar pada saat kembali ketempat asalnya Dia ridho, seperti dalam firman-Nya : 'Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida lagi diridai-Nya.'(QS 89 : 27-28)